Sabtu, 07 Desember 2024

Bunda Mendongeng Hari 11_ Menonton Pertunjukan Jarang Kepang

 



Dongeng hari 11 berawal dari mengenalkan tradisi bersih desa yang sampai saat ini masih dilakukan oleh warga tempat tinggal masa kecil saya dulu. Kegiatan ini bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen yang didapat. Tujuan yang lainnya adalah memberikan sesaji kepada danyang desa, yaitu makhluk  gaib yang menjaga desa agar menjaga dari hal-hal buruk.  Warga desa akan mengadakan sholawatan beserta doa bersama. Setiap warga akan membawa tumpeng dari rumah yang akan dimakan bersama-sama.

Puncak dari acara bersih desa adalah pertunjukan jarang kepang atau kuda lumping. Salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Seni tarian tradisional yang menggambarkan pasukan berkuda sebagai dukungan rakyat biasa kepada Pangeran Diponegoro beserta pasukannya yang sedang berperang melawan penjajah. Ada pantangan saat menonton pertunjukan ini yaitu penonton dilarang memakai baju warna hijau atau merah. Dikhawatirkan saat salah satu penari yang kesurupan akan mengejar penonton yang melanggar pantangan itu. Pantangan ini mitos atau fakta, sampai saat ini saya tidak mengetahuinya. Saya hanya ingat pesat ibu saat saya kecil dulu.



Saat saya bercerita, anak-anak sangat antusias meresponnya. Mereka tertarik dengan tradisi bersih desa. Bayangan si sulung adalah kegiatan untuk membersihkan desa atau bergotong royong supaya bersih dan terhindar dari penyakit seperti nyamuk demam berdarah atau penyakit lainnya. Mereka baru tahu ada tradisi seperti ini, karena jika pulang ke Solo, belum pernah melihat kegiatan seperti ini. 

Pada cerita bagian menonton jarang kepang yang penarinya kesurupan, anak-anak merasakan ketegangan. Mereka bertanya bagaimana mungkin orang makan beling, kenapa tidak makan nasi saja kan lebih enak. Bahkan si bungsu menganggap Jarang Kepang sama seperti pertunjukan Barong Sai yang pernah dia lihat ketika perayaan Imlek. 

Hal baiknya yaitu, anak-anak mulai mengenal tradisi turun temurun yang masih dilakukan oleh kakek/nenek mereka. Sesaji yang pernah mereka lihat di sawah atau persimpangan jalan ketika mereka pulang ke Solo, ternyata diperuntukkan untuk danyang desa. Saya mengatakan untuk menghormati, menghargai, apa yang para leluhur lakukan karena pastinya bertujuan untuk hal baik. Walau pada zaman sekarang hal itu sudah banyak ditinggalkan oleh generasi saat ini. Karena manusia hidup berdampingan dengan makhluk ciptaan Allah SWT yang lainnya.


Terima kasih,


Novia Hantriyati_IP Batam


#BundaSayang

#InstitutIbuProfesional

#BundaMendongeng

#SinergiWujudkanAksi

#IbuProfesional

#IP4ID2024

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bunda Mendongeng Hari 14_Makanan Kesukaan Bo

  Alhamdulillah hirobbil alamin, Sampai juga pada tantangan hari empat belas. Cerita dongeng hari ini menceritakan tentang makanan kesukaan ...