Kamis, 24 Maret 2022

Tilawah bersama ODOJ

Membaca Al Quran merupakan salah satu kewajiban bagi umat muslim. Kitab suci umat islam ini memiliki banyak sekali manfaat, diantaranya sebagai obat hati, bacaan Al Quran membuat hati kita sembuh dari penyakit hati, sumber syafaat, Al Quran akan menjadi syafaat bagi kita baik dunia dan akhirat, keberkahan, dengan membaca Al Quran, maka hidup akan berkah dan bahagia, keluarga Allah, mereka pecinta Al Quran adalah keluarga Allah.

Komunikasi One Day One Juz adalah komunitas Al Quran yang bertujuan untuk membiasakan membernya tetap istiqomah membaca Al Quran setiap hari minimal 1 ayat hingga 1 juz. Untuk tetap istiqomah dalam bertilawah, dibutuhkan paksaan diri, berteman dengan orang-orang shalih dan bergabung dalam komunitas Al Quran agar tetap semangat.

Ada beberapa program yang dihadirkan agar kita semakin dekat dengan Al Quran, yaitu :

  1. ODOJ : program tilawah setiap hari 1 juz Al-Quran.
  2. ODALF : program tilawah setiap hari setengah juz Al Quran.
  3. ODOL KIDS : program tilawah anak, setiap hari 1 lembar Al Quran.
  4. ODOJ STAR : program tilawah setiap hari dengan jumlah bebas, minimal 1 ayat Al Quran.
Bulan Oktober 2019, saya memutuskan untuk bergabung dalam komunitas ODOJ (One Day One Juz) agar selalu istiqomah dalam membaca Al Quran. Biasanya saya membaca Al Quran ketika ada waktu longgar selepas sholat fardhu. Paling banyak 2 halaman. Namun melalui ODOJ, saya memaksakan diri untuk bertilawah 1 juz setiap hari. Saat ini saya bergabung dalam group 2481 fasil 61, beranggotakan 30 member yang berisi akhwat dengan koordinator group yang bernama Ukhi Nina. Beliau yang selalu menyemangati para member di group untuk selalu semangat bertilawah. Setiap member akan bertugas secara bergiliran untuk membuat laporan bagi member yang sudah tilawah. Waktu yang diberikan untuk laporan tilawah di mulai pukul 17.00 WIB dan berakhir pukul 17.00 WIB di hari berikutnya. Jadi ada waktu 24 Jam setiap hari untuk bertilawah.

Pada tahun 2022 ini, tepatnya bulan Maret, ODOJ membuat program Kelas Khatam Terjemah AL Quran Plus yang sudah berlangsung selama 5 hari sejak 20 Maret 2022. Beberapa ketentuan dan tata tertib mengikuti kelas ini adalah :
  1. Meluruskan niat semata karena Allah SWT
  2. Program ini gratis karena beasiswa dari PSA
  3. Tiap peserta membaca terjemahan 2 halaman setiap hari
  4. Tiap peserta melaporkan bacaan terjemahan setiap pekan menggunakan Google Form
  5. Kelas berlangsung selama 1 tahun, ada ujian dan wisuda
  6. Mengikuti kajian tafsir pekanan, minimal 75 % kehadiran
  7. 3 pekan tidak laporan akan di DO dari Group
  8. Yang lulus akan mendapatkan syahadah
Semoga niat saya mengikuti kelas khatam terjemah Al Quran plus di ridhoi Allah SWT sehingga dipermudah dalam menjalaninya, meningkatkan kedekatan diri kepada Sang Ilahi Robbi, dan sebagai bekal untuk memberikan bekal buah hati baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin.
 
 
 
 

Selasa, 22 Maret 2022

Keluarga Barokah

Keluarga merupakan unit dasar dalam masyarakat yang disatukan dalam ikatan perkawinan yang berinteraksi satu sama lain dalam peran sosial sebagai suami dan istri, ibu dan anak, saudara laki-laki dan perempuan meniptakan budaya yang sama. Keluarga dibagi menjadi dua yaitu keluarga inti yang merupakan satuan keluarga yang terkecil terdiri dari ayah, ibu serta anak, dan keluarga besar atau luas yang selain keluarga inti ada anggota keluarga lain seperti kakek, nenek, paman, bibi, kakak atau adik yang masih mempunyai hubungan darah.

Sudah 10 tahun, saya menjalani pernikahan dan membentuk sebuah keluarga kecil bersama seorang laki-laki yang Insya Allah berakhlak mulia, baik dan tulus hatinya serta sabar dan penyayang. Seorang laki-laki pilihan ibu saya untuk bersama-sama menjalani kehidupan berumah tangga. Kami di karunia dua orang putra yang Masya Allah, sholeh, sehat dan ,manis. Itu sebuah karunia yang amat besar dari Sang Maha Esa. Amanah ini kami terima dengan rasa syukur dan ikhlas.

Sejak memutuskan menikah, kami tinggal di Pulau Batam, sehingga menyebabkan kami jauh dari orang tua dan saudara. Segala sesuatu kami kerjakan bersama dengan berbagi peran tanpa melibatkan keluarga besar yang lain. Suami mengambil peran penting yang melibatkan pekerjaan di luar keluarga yang memberikan dukungan keuangan dan menetapan status keluarga. Sedangkan saya mengambil peran yang melibatkan pekerjaan di dalam keluarga, yang memberikan dukungan emosional dan fisik untuk anak-anak. Peran ini kami jalankan untuk menjaga kelangsungan keluarga secara utuh.

Kami juga mempunyai peran penting dalam melatih anak untuk mempersiapkan diri pada kehidupan dewasa. Kami mengajarkan anak-anak cara berfikir dan berperilaku mengikuti norma, nilai, kepercayaan, dan sikap sosial dan budaya, sopan santun serta kesopanan.

Konflik dalam keluarga, pasti selalu ada. Entah konflik yang berasal dari luar atau dari dalam keluarga. Dari semuanya kami menyelesaikan dengan menjalin komunikasi secara terbuka. Walau terkadang, saya lebih banyak memilih diam jika konflik sedang memuncak. Namun, setelahnya kami selesaikan dengan berbicara dari hati ke hati saat anak-anak sudah tidur melalui "pillow talk". Dalam kegiatan ini, selain menyelesaikan konflik, saya juga menyampaikan perkembangan dan aktivitas yang dicapai dan dilakukan anak-anak. Terkadang juga waktu yang tepat untuk menyampaikan dan memutuskan rencana apa yang akan kami ambil dalam jangka waktu pendek dan jangka waktu panjang.

Sesuai dengan nama keluarga kami "Keluarga Barokah" kami berharap keluarga kami selalu diberkahi oleh Allah Swt dalam  dan selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin.


 



Rabu, 16 Maret 2022

Mudik ke Sragen

Sudah tiga tahun, kami tidak merencanakan pulang kampung ke Sragen. Waktu yang sangat lama, sejak Anaka mulai masuk sekolah taman kanak-kanak. Ini juga kunjungan pertama bagi Baraka, karena pada tahun terakhir kami pulang ke Sragen, Jenny masih belum lahir.


Wabah virus yang menyebar ke seluruh dunia, menjadi penyebab ketatnya persyaratan rute perjalanan domestik dan international. Bersyukur tahun ini persyaratan penerbangan memperbolehkan anak dibawah 12 tahun untuk naik pesawat, dengan didampingi orang tua serta mencantumkan kartu keluarga.


Dream list yang sudah saya tulis di awal tahun 2022, Alhamdulilah bisa terealisasi pada bulan Februari 2022 ini tepatnya pada tanggal 26 Februari 2022.


Beberapa Minggu, sebelum hari keberangkatan, kami menjaga pola makan dan istirahat yang cukup agar badan sehat dan fit. Namun satu rumah pada terserang batuk dan pilek semua. Kekhawatiran langsung menyelimuti perasaan kami. Antara bisa terbang atau tiket hangus.


Berusaha untuk tetap kembali sehat dengan minum obat dan vitamin secara teratur, memperbanyak minum air putih hangat, makan buah dan sayur serta istirahat cukup. Sambil berikhtiar dan terus berdoa supaya Allah SWT memperlancar, meridhoi niat kami bisa memeluk orang tua di kampung.


Alhamdulilah Allah SWT memperlancar urusan kami, sampai hari dimana kami bisa masuk ke ruang tunggu dengan tanpa ada kendala. Di ruang tunggu A7, kami menunggu kedatangan pesawat Lion Air Boeng JT-373 rute Batam-Jakarta dengan jadwal penerbangan 07.40-09.20 dengan seat 9C-9F. Sedangkan jadwal penerbangan kami transit ke Jakarta, akan berlanjut Jakarta-Solo dengan pesawat Lion Air Boeing JT-536 penerbangan 10.02-11.50 dengan seat 11A-11D.


Sampai Solo kami dijemput salah satu teman lagi, membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai ke Sragen. Sebenarnya ada jalan tol Solo-Ngawi yang bisa ditempuh dalam waktu 20 menit, tetapi kami memilih blusukan untuk menikmati pemandangan kota Boyolali, Mojosongo, Karang Anyar, Sragen.


Sebelum sampai, kami singgah sebentar untuk menikmati enaknya kuliner tengkleng kambing khas Sragen.


Hampir 2 Minggu kami menghabiskan waktu di Sragen, dan kini saatnya kembali ke Batam untuk beraktivitas seperti sedia kala. Banyak cerita yang dapat dituliskan, namun jaringan di pelosok desa yang kurang mendukung sehingga saya terpaksa berhenti menulis blog. Selain jaringan, banyaknya berkunjung ke tempat saudara untuk bersilaturahmi serta ke tempat wisata menjadikan saya kelelahan dan tidur lebih awal setelah sholat isya 🤭. Hal yang kami syukuri adalah syarat penerbangan yang tidak mewajibkan antigen dan PCR untuk traveller yang sudah vaksin dosis 2.


Dan kini, semua kembali normal, sudah siap menuliskan berbagai kenangan yang kami alami selama liburan di desa tempat kelahiran.


Terima kasih






Kamis, 24 Februari 2022

Woly dan Badai Besar


Sore itu, saat ibu Woly menonton televisi, ada siaran sekilas info tentang cuaca.


"Selamat sore, para penduduk kota W, badai akan segera datang, harap untuk tetap dirumah sampai badai mereda." Kata pembawa acara televisi


" Badai akan datang." ucap pelan ibu Woly


Ibu Woly lalu melihat Woly anak pertamanya dan Jenni anak keduanya yang sedang bermain di halaman rumah.


"Anak-anak, badai akan datang. Ayo cepat masuk rumah." teriak ibu Woly


Woly dan Jenni mengehentikan sejenak dari aktivitas mainnya. Tak lama setelahnya angin mulai bertiup lebih kencang dari biasanya yang menerbangkan daun-daun pohon. Kedua kakak beradik itu malah semakin senang bermain mengejar-ngejar daun-daun yang berterbangan.


Sementara kedua orang tuanya sibuk mengangkat jemuran dan memasukkan beberapa pot tanaman ke dalam rumah. Mereka belum tahu jika anak-anak masih asyik bermain di luar rumah. Ketika mereka menyadari, anak-anak sudah berlari ke tepi jalan terus mengejar-ngejar daun yang berterbangan. Ayah Woolfy pun langsung berlari dan mengangkat tubuh keduanya masuk ke dalam rumah.


" Jika badai datang, segera masuk rumah." kata ayah Woly


"Kenapa?" kata Woly ingin tahu


"Karena badai sangat kuat dan sangat berbahaya." penjelasan ayah Woly


Tak lama setelahnya, terdengar suara yang sangat keras sekali " Brakk". Dan mereka sangat kaget


"Suara apa itu?" tanya Jenni 


"Ayo kita lihat dari jendela." ajak Woly kepada Jenny 


Mereka berlari kearah jendela dan melihat keluar, ternyata pohon depan rumah Woly tumbang.


"Pantas saja ayah tadi menyuruh kita masuk, ternyata badai berkekuatan super." kata Woly


"Kakak benar, aku setuju." ucap Jenny


"Lalu, apa yang harus kita lakukan kak?" tanya Jenny


"Bagaimana kalau kita menonton televisi?" usul Woly


"Ide bagus kak. Aku akan menyalakan Televisinya." ucap Jenni sambil berlari ke meja televisi. Saat Jenni akan menekan tombol on/off, 


Tiba..tiba..


"Jangan dinyalakan Jenny!" Larang ibu Woly


Seketika Jenni berhenti di tempat.


"Kenapa Bu? kami bosan cuma berdiam tidak melakukan apapun." tanya Woly


" Saat badai, dilarang menyalakan televisi, karena itu sangat berbahaya bisa terjadi sengatan listrik." Jelas ibu Woly 


Sesaat kemudian listrik pun padam. Woly dan Jenni sangat ketakutan, namun ayah Woly segera datang dengan membawa senter dan beberapa makanan ringan untuk mereka nikmati bersama sambil menunggu badai reda.


Namun badai belum juga reda, listrik belum nyala dan udara semakin terasa dingin. Saat keluarga Woly berkumpul, terdengar ada yang mengetuk pintu.


Tok..tok..tok tok..tok..tok tok..tok..tok..


"Siapa yang mengetuk pintu dan bertamu pada saat badai begini?" tanya ayah


Ibu, Woly dan Jenni hanya mengangkat bahu. Ayah pun segera berjalan menuju ke arah pintu.


"Paman Wen." sapa ayah Woly dengan kaget.


"Ayo, cepat masuk paman." Lanjut ayah Woly menyuruh paman Wen masuk rumah


Paman Wen sudah sangat kedinginan, kemudian ibu Woly mengambilkan handuk dan baju ganti untuk paman Wen. Paman Wen adalah adik dari Ibu Woly.


Setelah paman Wen membersihkan diri dan berganti pakaian, paman segera bergabung dengan keluarga Woly untuk menikmati secangkir coklat hangat.


"Paman, kenapa waktu ada badai, paman malah berada di luar rumah?" tanya Woly ingin tahu 


"Paman memang berencana pergi mengunjungi kalian, tadi pagi saat paman berangkat dari rumah nenek kalian, tidak ada tanda-tanda badan akan datang." Jelas paman Wen


"Bersyukur sekali saat badai datang, paman hampir sampai dirumah ini. Di luar keadaannya sangat kacau." Lanjut paman Wen lagi


Setelah mendengar penjelasan dari paman, mereka semua pergi keruangan bawah tanah. Ayah Woly sengaja membangun rumah dengan melengkapi ruangan bawah tanah. Kota W sering sekali ada badai yang datang secara tiba-tiba, sehingga ruangan bawah tanah merupakan tempat yang aman jika ada badai besar datang.


Ruangan bawah tanah cukup besar, sehingga mereka bisa leluasa bermain dan berbincang-bincang sambil menunggu badai reda. Tetapi berdasarkan siaran radio yang ayah Woly bawa, kemungkinan badai akan reda besok pagi. Setelahnya mereka memilih untuk tidur.


Keesokan harinya, berita diradio menyiarkan kalau badai sudah reda. Ayah Woly dan paman Wen pun naik ke atas untuk memastikan kebenaran berita. Ternyata badai sudah reda.


Ibu, Woly dan Jenni juga ikut naik keatas. Keadaan diluar sangat berantakan, terlihat dari kaca jendela saat ibu membukanya.


"Lihat kak, berantakan sekali banyak pohon yang tumbang dan rumah tetangga ada yang rusak." Kata Jenny


"Iya, kakak melihatnya. Ternyata badai bisa memporak-porandakan apa saja yang dilewati." Jawab Woly


"Lalu apa yang harus kita lakukan Bu?" Tanya Woly kepada ibunya


"Kita tunggu intruksi dari ayah ya. Kita harus tetap tenang, jangan panik." jawab ibu Woly


Tak berapa lama, ayah Woly dan paman Wen masuk ke rumah.


"Keadaan diluar sangat parah, ayah dan paman Wen akan membersihkan mulai pagi ini. Woly dan Jenni boleh ikut membantu, tetapi harus hati-hati. Untuk ibu boleh membuatkan sarapan untuk kami" kata ayah Woly


"Hore...ye...asyik kita akan bekerja bakti." jawan Woly dan Jenni bersamaan.


"Siap ayah". jawab ibu Woly


Akhirnya mereka bergotong royong membersihkan lingkungan sekitar rumah yang rusak akibat badai kemarin. Woly dan Jenny sangat senang sekali membantu pekerjaan ini.


Selesai



Selasa, 22 Februari 2022

Saat Virus Menyapa

"Kok sudah pulang pak?tumben, biasanya menjelang magrib baru pulang" Tanya Bu Ina ketika melihat suaminya pulang cepat dari biasanya.

"Iya Bu, hari ini bapak capek banget." Jawab Pak Mamad.


"Mau ibu masakin air hangat buat mandi?" Tanya Bu Ina


"Boleh Bu, terima kasih ya. Bapak mau baringan sebentar sambil menunggu air masak. Nanti ibu panggil bapak, jika air sudah mendidik ya." Ucap Pak Mamad


"Baik pak, bapak istirahat saja untuk meredam lelah." Jawab Bu Ina


Sudah hampir sepuluh menit, air yang dimasak Bu Ina sudah mendidih. Bu Ina pun matikan kompor dan menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya. Setelahnya Bu Ina memanggil suaminya untuk segera mandi.


"Bapak..air sudah siap. Ayo pekas mandi, nanti airnya keburu dingin lho pak.." panggil Bu Ina kepada suaminya


"Sebentar ya Bu, bapak ambil handuk." Jawab pak Mamad


Tak lama kemudian, Pak Mamad keluar dari kamar sambil membawa handuk dan menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi, seperti biasa Bu Ina menawarkan makan kepada suaminya. Biasanya suaminya akan menjawab YA, tetapi untuk kali ini suaminya bilang TIDAK. Karena badannya sungguh sangat capek, jadi pak Mamad ingin segera tidur saja.


Menjelang magrib, Pak Mamad belum juga bangun, lalu Bu Ina mencoba membangunkan suaminya. Namun Bu Ina sangat terkejut, saat menyentuh lengan suaminya terasa sangat panas. Pelan- pelan Bu Ina membangunkan suaminya.


"Pak, bangun pak, sudah mau magrib." Kata Bu Ina


"Hemm" hanya itu jawaban Pak Mamad


"Sholat dulu, terus makan. Badan bapak panas juga, nanti setelah makan minum obat.'' kata Bu Ina


Sambil memaksa matanya dan melangkahkan kakinya untuk berwudhu dan menjalankan sholat magrib berjamaah dirumah. Karena merasa kurang sehat, jadi pak Mamad memutuskan sholat di rumah saja.


Selesai sholat, keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan dua anak laki- laki kecil yang berumur 2 dan 8 tahun itu menikmati makan malam bersama. Namun makan malam kali ini, Pak Mamad hanya makan sedikit karena tiba-tiba tidak nafsu makan.


Setelah membereskan makan malam, Bu Ina memberi obat penurun panas kepada suaminya.


"Apa yang bapak rasakan?" Tanya Bu Ina


" Badan bapak sakit semua Bu,lemas, tenggorokan dan kepala juga sakit." Jawab Pak Mamad.


"Nanti malam, bapak tidur dikamar belakang saja ya, biar tidak diganggu anak- anak dan  bisa tidur nyenyak." Kata Bu Ina


"Iya Bu, sekarang bapak mau lanjut istirahat. Nanti bangunin saat sholat Isya ya." Kata Pak Mamad


"Baik pak, biar malam ini anak-anak, tidur sama ibu di kamar depan." Jawab Bu Ina


Bu Ina pun melanjutkan kegiatan bersama anak-anak dan membiarkan suaminya istirahat. Bu Ina masih berfikir positif, mungkin suaminya kecapekan setelah dua hari kerja lembur sampai waktu berganti hari. Dan biasanya suaminya tidak mengeluh capek jika harus lembur.


Keesokan harinya, saat hendak membangunkan pak Mamad, Bu Ina heran kenapa suaminya masih demam, padahal tadi malam sebelum tidur sudah minum obat penurun panas dan obat batuk pilek. Dengan perlahan Bu Ina membangunkan suaminya untuk sholat subuh.


Sampai siang, bahkan sore hari pun kondisi suaminya tetap sama belum ada perubahan. Sekarang giliran Bu Ina yang merasakan sakit pada tenggorokan bahkan suaranya sudah mulai serak, padahal tadi pagi tidak apa-apa. Pikiran negatif sudah berseliweran, Apakah dia dan suaminya terserang virus yang sedang digadang-gadangkan itu?


Tubuh Bu Ina mulai tidak nyaman, terasa ada bagian tubuh yang sakit. Jika dia dan suami tes Antigen, bisa dipastikan positif. Lalu bagaimana dengan anak-anak? Siapa yang akan mengurus mereka?


Bu Ina harus kuat, berpikir positif bahwa ini hanya pertanda bahwa tubuh sedang butuh istirahat. Bu Ina dan Pak Mamad berusaha kuat, minum air putih hangat banyak, makan buah, vitamin C dan suplemen.


Keesokan harinya, Pak Mamad dan Bu Ina mulai sembuh, badan sudah ringan, batuk dan pilek sudah tidak ada lagi. Hanya perlu memulihkan tenaga. Mereka bersyukur sekali kepada Allah SWT, bisa melewati ini semua. Sekarang keluarga pak Mamad sudah mulai menerapkan gaya hidup sehat dengan menghindari minuman dingin dan manis, perbanyak makan buah dan sayur, minum vitamin serta perbanyak minum air putih, memakai masker ketika hendak keluar rumah, mencuci tangan sesering mungkin. Ternyata virus ada di mana-mana, mengincar siapa saja yang lengah dalam menjalankan protokol kesehatan.








Senin, 21 Februari 2022

Fia Flamingo yang Narsis


Di sebuah kolam, yang berada di salah satu kebun binatang yang terkenal di Nusantara, hidup seekor burung Flamingo yang bernama Fia. Fia hidup bersama teman- temannya, ada Bleki si burung Blekok, dan Baba si burung Bangau. Selain mereka, di kolam tersebut juga ada banyak ikan sebagai makanan mereka.


Fia mempunyai kaki yang panjang, bulunya yang berwarna pink menjadi daya tarik bagi siapa saja yang berkunjung di kolam. Jika dibandingkan dengan kedua temannya, Fia yang paling cantik, karena temannya hanya berwarna putih.


" Aku adalah Fia, aku burung yang paling cantik di kolam ini." Ucap Fia


Teman-temannya hanya memutar bola mata karena jengah, melihat kenarsisan Fia. Lebih baik mereka diam, kalau diladeni Fia akan menjadi-jadi.


"Hai, kenapa kalian diam saja sich?" Tanya Fia 


"Trus kami harus bilang Wow..gitu. Kami akui bulumu memang cantik karena berwarna pink, sedang bulu kami hanya putih saja." Jawab Bleki menanggapi


"Ah..kalian gak asyik." Gerutu Fia


Tak lama kemudian, datanglah rombongan keluarga mendekati kolam tersebut. Dengan berjalan anggun, Fia mulai mendekati mereka dan mengangkat satu kakinya agar terlihat mempesona.


Dari rombongan keluarga itu, ada anak laki-laki kecil yang membaca kamera. Lalu anak itu mulai mengambil gambar beberapa objek di sekitar kolam.


"Ayo, foto aku..foto aku." Seru Fia


Masih berdiri dengan satu kaki, Fia mengembangkan sayapnya agar terlihat semakin cantik.


"Ayo, foto yang banyak ya." Seru Fia lagi


Melihat sikap Fia, kedua temannya hanya geleng-geleng kepala sambil menangkap ikan sebagai makan siang mereka.


Tak lama kemudian, anak laki-laki itu selesai dengan kegiatan mengambil gambarnya.


"Sudah selesai Fian, kamu mengambil gambar objek di sekitar kolam ini?" Tanya ibu Fian


Oh ternyata anak laki-laki itu bernama Fian, hampir mirip dengan namaku. Batin Fia


"Sudah bu, ayo kita pindah ke tempat lain." Ajak Fian kepada ibunya.


"Coba ibu lihat hasil fotonya." Kata Ibu Fian


" Ini bu." Kata Fian sambil menyerahkan hasil foto kepada ibunya


" Lho. Lho..kok gambarnya aneh! Kenapa cuma kaki nya Flamingo saja yang kamu foto." Ucap ibu Fian


"Kan Flamingo nya tinggi Bu, Fian kan pendek, jadi cuma kakinya saja yang Fian foto " kata Fian menjelaskan 


Semua keluarga pada tertawa mengetahui hasil foto Fian. Tak terkecuali Blexy dan Baba yang mendengar percakapan ibu dan anak itu.


Sedangkan Fia, dia sangat kecewa. Fia sudah berpose dengan berbagai gaya, namun hanya kakinya saja yang di foto.


Sejak kejadian itu, kini Fia tidak narsis lagi. Jika ada pengunjung yang datang ke kolam, Fia bersikap biasa saja sama seperti kedua sahabatnya. Kini mereka semakin akrab.




Minggu, 20 Februari 2022

Teman Baru Kenthi

Di dalam hutan belantara hiduplah seekor kelinci berwarna coklat yang bernama Kenthi. Kenthi hidup bersama ibunya, sedangkan ayahnya tertangkap pemburu saat memasuki sebuah lubang, dan ternyata itu adalah sebuah lubang jebakan. Kenthi adalah kelinci yang periang, ramah, suka senyum dan suka bermain sama siapa saja. Kenthi juga mempunya teman-teman yang sangat baik dan menyayanginya, mereka adalah Berry si beruang, Kwok si bebek, Foxy si Serigala dan Nail si siput.


Suatu hari, Kenthi bersama teman-temannya sedang asyik bermain di Padang rumput yang ada di tengah hujan. Hingga pada saat itu terdengar suara dari balik semak-semak.


"Bu..aku tidak mau tinggal di sini." Ucap suara itu


"Tidak apa-apa nak, di hutan ini kita akan lebih aman, karena penghuninya saling menghormati," kata suara lain, yang sepertinya ibu anak itu.


Kenthi pun menghentikan aktivitas bermainnya, kemudian mengajak teman-teman untuk mendekati dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik semak itu.


"Pokoknya, aku tidak mau Bu, aku mau pulang ke hutan yang dulu. Disini aku tidak punya teman." Ucap anak itu lagi


"Ibu yakin, kamu akan betah sayang, nanti kita sama-sama berkeliling mencari teman barumu." Ucap ibu itu lagi


Oh ternyata itu suara anak domba yang sedang menangis dan ditenangkan oleh ibunya. Melihat hal itu, Kenthi dan teman-temannya mendekati mereka bermaksud untuk menyapa.


"Hallo, selamat datang di hutan kami." Sapa Kenthi memulai percakapan


Anak domba itu pun mulai berhenti menangis dan mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang menyapanya.


"Hai, hallo!" Sapa teman- teman Kenthi yang lain.


Melihat hewan lain yang menyapa mereka, ibu domba tersenyum dan membalas sapaan.


"Hallo juga anak-anak manis, perkenalkan ini Ken dan saya ibunya. Kami baru pindah dari hutan seberang." Sapa ibu domba


"Hallo Ken, aku Kenthi dan mereka adalah teman-temanku." Jawab Kenthi ramah


"Hai Ken, aku Berry, ini Kwok, ini Foxy dan yang terkecil ini Nail." Ucap Berry sambil mengenalkan diri dan juga teman-temannya.


Di belakang tubuh ibunya, Ken melihat dengan malu- malu dan masih tergambar kecemasan di wajahnya.


"Itu, teman-teman menyapamu nak, ayo dibalas!" Ucap ibu domba


"Hai semua, namaku Ken." Balas Ken


"Kamu, tidak usah takut kepada kami Ken. Kami senang berkenalan dengan penghuni baru. Maukah kamu ikut bermain bersama kami?" Tanya Kenthi


Lalu Ken melihat ibunya untuk meminta persetujuan apakah dia boleh bermain dengan teman-teman barunya. Ibu Domba tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai pertanda dia mengizinkannya.


Tanpa rasa takut, Ken langsung berlari bergabung bersama teman barunya. Terlihat kebahagiaan terpancar di wajah Ken. 


Kini Ken tidak takut dan malu lagi tinggal di hutan ini. Ada teman yang selalu mengajaknya main dan menghiburnya dikala sedih. Selain itu, penghuni hutan yang lain saling menghormati dan hidup rukun.







Sabtu, 19 Februari 2022

Kisah Jaja dan Beras Merah

Cerita Fabel part 1

Pagi hari di sebuah pohon yang sangat lebat dan rindang terdengar nyanyian burung menyambut datangnya mentari. Di pohon tersebut banyak terdapat sarang burung. Ada berbagai jenis burung yang membuat sarang disana. Salah satunya adalah keluarga burung Gereja.


Di sarang keluarga burung Gereja terdapat tiga penghuni, mereka adalah Pak Geri, Ibu Rere, dan anak mereka yang bernama Jaja. Jaja sebenarnya sudah bisa mencari makan sendiri, karena terlalu dimanja oleh ibunya menyebabkan dia jadi malas bergerak. Selain malas, Jaja juga jarang bermain sama teman-temannya.


Suatu hari, Jaja ingin sekali makan beras merah.

"Bu, ayolah carikan aku beras merah! Kata teman- temanku itu makanan yang enak." Kata Jaja kepada ibunya.


" Di Sekitar sini jarang manusia yang makan merah merah anakku, sawah-sawah di sekitar sini juga tidak ada yang menanam padi jenis beras merah." Sahut Bu Rere


" Pokoknya aku mau, makan beras merah. Kalau tidak aku akan mogok makan". Ucap Jaja


Khawatir kalau Jaja akan mogok makan dan menyebabkan dia akan sakit, Bu Rere langsung mendatangi pak Gery suaminya yang baru pulang dari mencari makanan.


" Ada apa Bu, kenapa ibu gelisah?" Tanya pak Gerry


" Pak, Jaja ingin sekali makan beras merah, tetapi kita tidak punya. Kalau tidak ada beras merah, Jaja akan mogok makan pak." Jawab Bu Rere


Huff..terdengar hembusan nafas pak Gery yang sangat dalam. Pak Gery tahu tipikal anaknya yang suka merajuk jika tidak mendapatkan keinginannya.


"Ibu sich selalu memanjakan anak itu, jadinya makin malas kan dia." Kata pak Gery sambil berlalu meninggalkan istrinya untuk pergi menyimpan bahan makanan yang telah diperoleh.


Keesokan harinya, Jaja benar-benar mogok makan, dia tidak mau makan saat ibunya menyuruhnya makan. Jaja hanya murung saja. Melihat hal itu, Bu Rere semakin cemas dan khawatir. Lalu mendatangi suaminya.


" Pak, ayo kita sama-sama mencari beras merah untuk anak kita. Kasihan Jaja belum makan dari kemarin. Ibu takut nanti Jaja sakit." Kata Bu Rere


Melihat kekhawatiran istrinya, dengan terpaksa pak Gery menyetujui kemauan istrinya.


" Baiklah Bu, tapi bapak mohon ini yang terakhir kali kita memenuhi keinginan anak itu. Lihatlah teman-temannya saja sudah bisa mencari makan sendiri."


Berangkatlah sepasang burung itu untuk mencari beras merah atau persawahan yang menanam padi jenis beras merah. Sampai tengah hari, mereka belum juga mendapatkannya. Karena merasa capek, mereka memutuskan berhenti sejenak untuk istirahat dan juga memakan bekal yang mereka bawa.


Setelah merasa cukup, mereka melanjutkan perjalanannya untuk mencari keberadaan beras merah. Hingga akhirnya sampailah mereka pada sebuah hamparan sawah yang menanam padi jenis beras merah.


Betapa senang mereka, telah menemukan apa yang mereka cari. Dengan segera Pak Gery dan Bu Rere mengambil beberapa padi yang siap panen dan dimasukkan ke dalam kantong makanan yang mereka bawa. Karena saking bahagianya, tanpa mereka ada sepasang mata tajam dengan cakar yang kuat mengintai keberadaan mereka. Makhluk itu mengamati dengan seksama aktivitas yang dilakukan sepasang burung kecil yang tidak jauh dari tempat persembunyiannya.


Dirasa sudah cukup, lalu sepasang burung itu memutuskan untuk kembali pulang. Namun sepersekian detik dan secepat kilat..wussss, ada makhluk berbulu dan berekor  juga yang tiba-tiba menyambar pak Gery. Dan bawanya ke dalam semak-semak.


" Bapak….."  teriak Bu Rere


Sambil menangis, Bu Rere langsung terbang dengan cepat dan tidak mau menjadi mangsa selanjutnya. Sekuat tenaga Bu Rere terbang pulang ke sarangnya dengan membawa kesedihan yang amat dalam. Sepanjang perjalanan, Bu Rere terus menangis sedih kehilangan suami tercintanya. Seandainya dia patuh kepada suaminya untuk tidak memanjakan anaknya, mungkin suaminya masih ada. Namun nasi sudah menjadi bubur, kesedihan yang berkepanjangan akan menyebabkan dirinya tersiksa.


Saat tiba dirumah, Jaja kaget melihat penampilan ibunya yang berantakan. Matanya sembab karena menangis, sayap dan badannya lecet akibat menerjang dedaunan dan ranting pohon yang dilewatinya sewaktu pulang tadi.


"Ibu...ibu kenapa?" Tanya Jaja


Bu Rere hanya diam saja, tidak mampu berucap sepatah kata pun. Kemudian Jaja mengambilkan minum dan menuntun ibunya duduk di dalam sarang mereka. Setelah agak tenang, Bu Rere mulai menceritakan perjalanan mereka dalam mencari beras merah termasuk kisah tragis pak Gery yang diterkam kucing.


" Maafkan Jaja Bu..maaf. Seharusnya Jaja yang diterkam kucing bukan ayah." Kata Jaja sambil terisak 


" Ayah adalah sosok yang baik buat Jaja, ayah juga bertanggung jawab buat Jaja." Kata Jaja lagi


" Sudah anakku, tidak ada gunanya menyesali semua yang sudah terjadi, mulai sekarang berjanjilah untuk menjadi anak yang giat mencari makanan dan selalu semangat seperti ayahmu." Nasihat bu Rere


" Iya Bu, Jaja janji tidak akan malas lagi. Jaja akan giat bekerja dan semangat menjadi makan seperti ayah." Kata Jaja sibuk memeluk ibunya


Jaja sangat beruntung memiliki ibu yang tidak pernah menyalahkan dirinya, walau semua itu terjadi karena kemalasan dan keegoisannya. Sejak saat itu, Jaja rajin menjadi makanan untuknya dan ibunya. Mengganti tugas ayahnya yang akan selalu menjadi dan melindungi ibunya.


Tamat 


Cerita ini di buat saat saya menemani Anaka membuat cerita fabel tentang hewan yang ada disekitar kita. Anak memilih burung untuk menjadi sebuah cerita fabel dengan versi kami berdua. Pelajaran yang dapat diambil dalam cerita ini adalah:

  1. Jangan terlalu memanjakan anak
  2. Menerima setiap kesalahan sebagai takdir Allah SWT tanpa menyalahkan atau menghakimi siapa saja.
  3. Kemalasan mendatangkan kebodohan
  4. Melalui sebuah peristiwa menjadikan sebuah pembelajaran untuk berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Selamat membaca dan semoga bermanfaat.





Jumat, 18 Februari 2022

Pemicu "Clingy" pada Balita

"Duuh...ditinggal sebentar saja sudah rewel, merengek dan menangis. Padahal cuma angkat jemuran."

" Kalau begitu terus, ibu gak bisa ngapa-ngapain donk. Padahal pekerjaan rumah masih numpuk."

Ayo..siapa yang pernah mengalami fase ini ? Fase "clingy" alias lengket. Saat anak melilit seperti ular, mengekor seperti bebek. Si kecil selalu ingin dekat dan menempel sama ibu. Tidak mau main sendiri, tidak boleh kemana-mana bahkan ke kamar mandi, pokoknya harus dekat dengan ibu.

Saya pernah mengalami masa ini, dimana Baraka benar-benar lengket tidak mau lepas dari saya. Saat Baraka berusia 10-18 bulan. Selalu minta ditemani bermain terus, saya tidak diizinkan menemani kakaknya belajar, tidur sama ayahnya juga tidak mau.  Bahkan ke kamar mandi pun terpaksa saya bawa.

Lalu saya bertanya-tanya, " Apa yang salah ya?" biasanya tidak begini." 

"Apa terlalu memanjakannya?"

Padahal sebelumnya is oke wae., bisa ditinggal dengan mudah, mulai makan sendiri, tiba-tiba rewel dan tidak mau ditinggal sama sekali. Tentunya timbul pertanyaan dong, Ada apa dengan nie bocah ?

Sebenarnya hal ini wajar terjadi dan sangat normal untuk perkembangan sosial-emosional anak. Anak usia balita haus akan perhatian karena belum cukup mandiri dan masih tergantung sama orang tua. Kurangnya kepercayaan anak pada orang dewasa lain selain ornag tuanya juga dapat mempengaruhi kelengketan balita pada ibunya.

Hal ini bisa disebut separation anxiety atau kecemasan perpisahan yang terjadi ketika Si kecil merasa tertekan dan cemas saat dipisahkan oleh ibunya. Si kecil akan jadi kesal, sehingga meluapkannya dengan tangisan, rengekan dan perilaku yang ditunjukkan akan membuat orang tua ikut jengkel dan frustasi. Namun, kita harus tahu memahami bahwa ketahukan itu nyata dialami oleh balita. Jadi hindari untuk menghardik atau membentak anak, tetapi tetap tegas dan jangan menyerah menghadapi rengekan mereka. Orang tua harus menunjukkan kendali diri yang baik dalam situasi seperti ini.

Tapi, sebenarnya apa sich pemicu anak "menempel" seperti perangko ini ?

Faktor pemicunya ternyata :

  • Berada dilingkungan baru atau bersama orang lain
Jika kita ada keperluan, dan harus menitipkan anak kepada orang lain, pasti anak akan menangis, menjerit, menarik-narik baju dan tangan. Dalam kondisi seperti ini, jangan panik, kendalikan emosi, beri anak pelukan dan yakinkan akan menjemput lagi, untuk memastikan bahwa kita akan kembali
  • Ibu yang sedang hamil
Melibatkan anak dalam proses mempersiapkan persalinan seperti mengajak anak berbelanja baju bayi, meminta akan menyentuh perut ibu, maka anak pertama akan merasa mendapatkan peran dalam keluarga. Sehingga bisa mengurangi ketakutan akan kedatangan adik baru.
  • Memiliki adik baru
Membawa pulang bayi baru dan memperkenalkan pada balita akan membuat dia bingung dan memicu stres pada balita, lebih baik setelah lahiran, atur balita untuk mempertemukan dan mengenalkan adik barunya, biarkan dia menyentuh dan melakukan kontak sebanyak mungkin dengan adiknya.
 
Dari tiga faktor pemicu diatas, hal yang saya alami adalah poin pertama. Saat itu ada tawaran mengajar di salah satu sekolah dasar berbasis Islam. Kesempatan ini saya ambil, suami juga sudah mengizinkan. Namun beberapa hari saat akan mulai mengambil pekerjaan, Baraka tiba-tiba lengket kayak perangko, tidak mau ditinggal, maunya ditemeni terus. 2 hari, saya terpaksa menitipkan Baraka ke tetangga, karena harus mengikuti tes. Proses ini alot banget, ada adegan menangis. Padalah hanya setengah hari saya meninggalkannya. Akhirnya saya memutuskan tidak mengambil pekerjaan dan memilih tetap jadi ibu yang mengawasi anak-anaknya setiap hari. Setelah itu, Baraka kembali normal, proses melilit, menempel, dan mengekor juga berakhir.

So..jangan panik kalau balita terlalu lengket, menempel seperti perangko. Ini  berarti bahwa mereka akan melalui tahap perkembangan dan mereka perlu diyakinkan bahwa kita ada untuk mendampinginya. Semakin besar dia, semakin dia mengerti bahwa dia perlu terpisah dari orang tuanya dan ini adalah perasaan baru. Jika balita tidak membiarkan kita kemana-mana, cobalah dan katakan padanya apa yang  hendak kita lakukan bahwa Ibu akan ke toilet sebentar dan akan kembali dalam lima menit. Ketika kembali ke kamar, umumkan bahwa kita sudah kembali dan tersenyum sehingga anak paham bahwa jika kita pergi, kita akan kembali.

Nah, jika balita menangis atau merengek, perlihatkan buku atau mainan kepada mereka. Cobalah dan bantu mereka untuk bermain sendiri dengan mainan-mainan itu, jadi kita tidak harus selalu disertakan. Hindari mengabaikan, mengecilkan hati atau menghukum perilaku anak,  tetapi cobalah untuk memuji ketika dia menunjukkan kemandirian.


 

Kamis, 17 Februari 2022

Ketika Pasangan Memilih Diam

Pertengkaran dalam rumah tangga bisa dialami oleh siapa saja, tidak terkecuali dalam keluarga saya. Yang sering terjadi sich perbedaan pendapat antara saya dan suami. Alhamdulilah selama berumah tangga tidak pernah terjadi pertengkaran yang menyebabkan panci melayang atau piring gelas hancur. Salah satu cara saya untuk menghentikan perdepatan tersebut adalah dengan memilih diam.

Saya memilih diam untuk solusi terbaik dan menganggap kalau diam adalah emas. Sebenarnya saya tidak begitu mengerti dengan kalimat ini, mungkin karena sering melihat kalimat tersebut bersliweran dibeberapa artikel atau sering melihat teman mengucapkan secara langsung. Tapi apakah benar kalau diam ini solusi terbaik untuk sebuah pertengkaran ?

Ternyata keputusan diam atau sering disebut Silent Treatment ini tidak sepenuhnya tepat. Justru dengan diam bisa melukai perasaan pasangan satu sama lain. Sikap diam saat bertengkar dengan pasangan dapat membuat pasangan merasa tidak dihargai, tidak dicintai dan merasa menjadi orang yang tidak penting. Pasangan juga akan merasa bingung, frustasi, lelah, bahkan merasa lebih marah.

Sikap diam termasuk dalam pengabaian secara emosional. Hal ini bisa membuat pasangan merasa terpisah dan tidak diinginkan lagi. Sikap diam biasanya dijadikan solusi,  jika pasangan merasa :

  • Merasa tidak ingin memaafkan 
Saat terjadi perbedaan pendapat, rasanya sebel, mau marah dan memaksa pasangan untuk sependapat dengan kemauan kita. Sehingga agar rasa sakit hari ini tidak bertambah, biasanya memilih diam untuk menutup diri dan mengisolasi diri dari pasangan. Namun jika terus menerus, maka rasa sakit dan amarah sulit diselesaikan. Sehingga untuk mengatasi kondisi ini adalah berusaha untuk mengalah dan saling memaafkan.
  •  Kurangnya usaha dari salah satu pasangan 
Penyelesaikan masalah tidak bisa dilakukan oleh satu pasangan, harus kedua pihak harus berusaha menyelesaikan. Kadang kala hanya masalah sepele, namun jika tidak ada komunikasi yang baik, maka akan menjadi besar. Karena salah satu pasangan memilih diam, akhirnya pasangan lain akan memilih menarik diri.
  • Kurangnya waktu antar pasangan
Terlalu sibuk mengurus sesuatu dalam hubungan, dan melupakan hal-hal yang penting, misalnya hal sepele seperti suami manaruh handuk kotor di tempat tidur, sehingga terjadi membuat pertengkaran tanpa ujung. Akhirnya mengambil sikap diam. Padalah dapat melakukan hal yang menguatkan hubungan pernikahan, salah satunya dengan pillow talk atau ngobrol santai sebelum tidur.
  • Takut untuk membicarakan masalah
Sikap diam, sering diambil karena rasa takut untuk membicarakan masalah pada pasangan. Takut akan menjadi-jadi saat membicarakan masalah terkait. Padahal setip masalah harus diselesaikan dengan baik, dan bukan ditunggu hingga menjadi bola salju yang makin lama makin membesar.
  • Sering mengingkari masalah
Saat pasangan memiliki masalah dalam kehidupan rumah tangganya, seringkali mereka mengingkari masalah tersebut. Pengingkaran ini terjadi karena banyak hal. Mungkin karena pasangan tidak ingin mengambil pusing atas masalah yang terjadi, mungkin juga karena pasangan sudah tidak peduli dengan kehidupan rumah tangga. Apapun alasannya, mengingkari permasalahan dengan sikap diam sama sekali tidak menyelesaikan masalah dengan baik.
 
Lalu bagaimana jika pasangan mengambil sikap diam ? ternyata ada beberapa hal cara untuk menghadapi sikap diamnya pasangan. Beberapa cara tersebut sebagai berikut :
  • Katakan yang sebenarnya dengan tenang 
Saat pasangan mengambil sikap diam, katakan padanyadengan tenang bahwa tidak bisa membaca pikirannya dan sikap diam memiliki batas dan harus diakhiri
  • Jangan pedulikan
Jangan pedulikan sikap diam yang dilakukan pasangan, tetap mengatakan sesuatu seperti merayunya atau pura-pura merajuk.
  • Hindari mengancam
Hindari mengancam saat pasangan mengambil sikap diam, hal ini akan memperpanjang aksi diamnya, atau bahkan pasangan merasa terancam dan tidak berani berbicara yang sebenarnya terjadi
  • Memberi sementara waktu
Memberi sementara waktu pasangan untuk tenang dan sendiri. Tapi tetap mengajaknya bicara.

Sikap diam, atau silent treatment yang dilakukan seseorang pada pasangannya mungkin saja sering dianggap sebagai hal yang wajar dan tepat. Akan tetapi sikap diam ini, seringkali menimbulkan perasaan tidak dihargai, dijauhi, bahkan tidak merasa dicintai lagi oleh pasangan. Jadi, alih-alih mengambil sikap diam, sebaiknya gunakan waktu untuk membicarakan masalah yang sedang terjadi dengan pikiran yang lebih tenang dan jernih. Sikap diam, boleh saja dilakukan, namun harus ada batasan yang jelas. Artinya, harus ada waktu untuk berhenti dari sikap diam tersebut. Ingatlah, diam tak selalu berarti emas, bisa juga berakhir bencana. 


 


 

Bunda Mendongeng Hari 14_Makanan Kesukaan Bo

  Alhamdulillah hirobbil alamin, Sampai juga pada tantangan hari empat belas. Cerita dongeng hari ini menceritakan tentang makanan kesukaan ...