Minggu, 30 Juni 2024

Komunikasi Produktif Melalui Pesan Teks (Zona 2 Hari ke-5)

 Manusia adalah makhluk sosial, maka sangat penting untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Perkembangan teknologi dalam bidang komunikasi yang terus maju dan selalu berinovasi, tentu saja mengubah cara manusia dalam bersosialisasi. Perubahan tersebut tentu saja membawa dampak besar pada berbagai aspek kehidupan manusia. Beberapa manfaat perkembangan teknologi diantaranya, pertukaran informasi secara instan, kemudahan komunikasi jarak jauh, kemajuan dalam bidang bisnis dan ekomoni dan masih banyak lagi.

Kemarin, saat saya pergi ke pasar tradisional, tidak sengaja saja berjumpa dengan salah satu teman SMA. Sebut saja namanya mbak Melati. Seingat saya dulu kami tidak pernah satu kelas. Mbak Melati cukup terkenal semasa sekolah menengah atas, dia termasuk anak yang menonjol karena kecantikannya. Sedangkan dia, mungkin mengingat saya karena seringnya maju ke depan saat kepala sekolah menyebutkan nama-nama siswa yang mendapat peringkat 1 sampai 3 ketika akan pembagian rapor atau ingat saya karena saya aktif di kegiatan kepramukaan.

Ketika kami bertemu, tidak banyak yang kami bahas. Hanya sebatas kabar, dan aktivitas harian saja. Ternyata mbak Melati saat ini menjadi PNS di salah satu sekolah menengah kejurusan di kota Solo dalam bidang studi Matematika. Kamipun bertukar nomor telepon untuk berkomunikasi agar terjalin keakraban.

Komunikasi berlanjut melalu aplikasi whatsapp sampai malam hari. Di saat saya ada waktu luang, saya membalas pesannya atau menyampaikan sedang ada kesibukan. Dia antusias sekali mengirimkan pesan seolah ingin mengulik kehidupan saya yang sekarang. Bertanya tentang suami, anak, kondisi Batam, sampai akun sosmed. Pertanyaan yang menurut saya masih wajar untuk di jawab, masih saya balas.

Hari ini, Senin 01 Juli 2024, ada pesan masuk dari mbak Melati yang isinya;

She :"Kamu itu lho Nov, sekolah pinter dapat juara terus, kuliah juga kok gak jadi pegawai, cuma jadi ibu rumah tangga. Po ra rugi oleh mu sekolah duwur-duwur."

Saya tertawa ngakak, saat membaca pesan dia. Sampai-sampai suami bertanya apa yang membuat saya berbahak. Saat suami membaca pesan, kami berdua malah cekikikan. Tanggapan suami malah,

He    :"Kurang adoh dolane kancamu kui".

Saya sengaja tidak langsung membalas pesannya, saya merasa itu pertanyaan lucu dan tak perlu harus cepat membalasnya. Sampai pesan mbak Mel datang lagi;

She    :"Kamu tak masukkan ke group Alumi SMA yo! sopo reti mau bernostalgia karo konco-konco."

Melati, sebuah nama yang dalam memori pikiran saya tidak banyak mengingat interaksi sama dia saat kami SMU dulu. Hanya mengenal..ya..mengenal namanya dan tahu kelasnya. Selebihnya tidak ada. Sewaktu SMU dulu, saya kurang bergaul. Saya juga tidak masuk group alumi, dengan alasan tertentu.๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‰

Pesan diapun saya balas;

Me    :"Hai Cikgu cantik, aku bangga dengan pilihanku untuk menjadi ibu rumah tangga. Aku juga bersyukur dengan hidupku yang sekarang. Cikgu lebih hebat lagi. Semoga ilmu pengetahuan yang Allah titipan kepada kita, bermanfaat untuk mencetak anak-anak menjadi orang hebat di masa depannya."

Me    "Saat ini, aku rasa belum perlu masuk ke group Alumni. Sehat selalu buat ibu guru cantik beserta keluarga. Keep contact ya. Terima kasih."

Tindakan saat memberikan feedback: Saya senang saat membaca pesan, tenang saat membalasnya. Dengan bangga menyampaikan kenyataan kalau saya memang ibu rumah tangga. Membalas saat waktu tepat dengan kalimat jelas dan singkat atas asumsi dia. Memberikan pujian juga terhadap dia atas pilihan yang dia ambil. Menyatakan untuk tetap saling berhubungan dan menjaga silaturahmi.

Insight dari kejadian ini : Memang benar sekali kalau latar belakang keluarga, lingkungan, pendidikan , pergaulan sangat mempengaruhi persepsi seseorang dalam komunikasi dengan orang dewasa. Rasa keingintahuan yang besar untuk mengulik kehidupan sesorang itu hal yang tidak baik, bahkan dapat dianggap sebagai pengganggu. Memuaskan ingin tahu juga ada batasnya. Menolak dengan lembut sesuatu yang sekiranya tidak sejalan dengan kita, tanpa harus menjelaskan alasannya.

#sinergiwujudkanaksi

#ibuprofesional

#IP4ID2024

#bunsayIIP

#bunsaybatch9

#institutibuprofesional



Sabtu, 29 Juni 2024

Komunikasi Produktif dengan Balita (Zona 2 hari ke-4)

Usia balita adalah saat yang tepat untuk  belajar komunikasi secara verbal dan mulai memahami bagaimana berbicara dalam percakapan sederhana. Cara berkomunikasi dengan balita tentunya berbeda dengan anak yang lebih besar mengingat proses perkembangan yang sedang terjadi. Masa ini adalah masa observasi, mengamati dan mengawasi segala hal, kemudian menyerap segala perilaku tanpa pilih. Maka memberikan contoh yang baik, sopan adalah tindakan yang perlu dilakukan oleh orang tua.

Hari ini, Minggu 30 Juni 2024, saya dan anak-anak berencana akan pergi ke kolam renang bersama para sepupu dan kakak ipar. Kebetulan tempatnya yang tidak jauh dari rumah mertua, jadi kami memutuskan untuk memakai sepeda motor saja. Ada 4 orang dewasa dan 6 anak-anak.  

Anak bungsu saya yang berusia 4 tahun sangat senang sekali saat akan diajak berenang. Dia yang biasanya susah sekali jika dibangunkan, hari ini dia bangun sendiri sebelum jam enam pagi. Dengan semangat dia membantu saya menyiapkan keperluannya seperti baju renang, pelampung, handuk, baju ganti, sabun plus shampo dan juga minyak kayu putih. 

Persiapan semua sudah selesai, anak-anak dan orang dewasa sudah sarapan, bekal juga sudah siap di dalam rantang. Namun....tiba-tiba cuaca yang awalnya berawan, berubah menjadi mendung disertai gerimis tipis-tipis. Rintik air hujan yang awalnya setetes demi setetes berubah menjadi guyuran air deras yang turun dari langit.

Bersamaan dengan itu, meledak juga suara tangisan si bungsu karena harus menunggu hujan reda terlebih dahulu atau bisa jadi acara berenangnya di tunda. Dia menangis dan juga berteriak, bersikeras pergi disaat hujan. Tidak mau menunggu hujan berhenti. Nenek, kakek dan kakak ipar mulai panik. Mereka berusaha menenangkan si bungsu dengan cara merayunya, namun belum juga berhasil. Lalu apa yang saya lakukan?

Saya duduk tenang di kursi ruang tamu, tidak panik, diam saat mertua dan kakak ipar yang berusaha membujuk si bungsu. Saya tetap melihat dan mengawasi si bungsu agar tidak memukul atau melempar barang. Membiarkan si bungsu tetap menangis sambil berteriak-teriak. Hampir 20 menit dia meluapkan rasa sedihnya, setelah itu dia mendekati saya minta di peluk. Sambil memeluknya, saya cium dan mengelus punggungnya perlahan. Memasang senyum lalu berjongkok untuk menyamakan dengan tinggi badannya sambil melihat matanya.

Me : "Adik sedih ya, adik kecewa ya? mau berenang eh tiba-tiba hujan."

He : " I..iya, hati adik sakit, patah ." (mau ngakak rasanya) saudara lain yang mendengarnya menahan tawa agar tidak meledak.

Me :"Kita berenang, setelah hujan berhenti ya. Biar adek happy, mau menggambar dan mewarnai pakai cotton buds?"

He : "Adek mau. Apa itu cotton buds?"

Sambil menunjukkan cotton buds serta fungsinya dan menunggu hujan reda, kami bersama sepupu yang lain menggambar dan mewarnai pakai cotton buds dengan tehnik dot to dot. Karena tidak ada cat warna, saya menggunakan pewarna & pasta makanan. Yang penting ada warnanya bonus aroma cocopandan๐Ÿ˜€๐Ÿ˜. Tentunya tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada si bungsu karena sudah sabar menunggu dan melakukan aktivitas menggambar.

Dalam memberikan feebdback : Saya tenang dan tidak panik. Seolah-olah tidak peduli sama si bungsu, tetapi saya memperhatikan. Memberikan waktu untuk si bungsu melampiaskan amarahnya. Mengakui dan memahami reaksi emosi apa yang si bungsu rasakan. Memberi pengertian dengan kalimat sederhana dan mudah dia pahami. Tetap menjaga senyuman dan intonasi suara yang lembut. Memberikan apresiasi atas aktivitas yang sudah dilakukan.

Insight dari kejadian ini : Tidak perlu berkomentar tentang apa yang dilakukan mertua dan kakak ipar saat menenangkan si bungsu, cukup menunjukkan tindakan secara langsung cara apa yang biasa saya lakukan.  Menghindari berbicara terlalu banyak, menyimpan penjelasan bahaya pergi ketika hujan untuk lain waktu. Mencoba memberikan aktivitas lain yang bermanfaat untuk mengalihkan rasa bosan saat menunggu.

Perbanyak ngobrol dengan ananda, membangun bonding akan mempermudah komunikasi dengannya. Saat kita merasa kesepian, ada dia yang selalu bisa diajak bicara kapanpun. Mari berbahagia dan bertumbuh bersamanya. Semoga Allah SWT memberi jalan dan ridhaNya kepada kita semua dalam membersamai ananda tercinta. Aamiin Allahuma Aamiin.

#sinergiwujudkanaksi

#ibuprofesional

#IP4ID2024

#bunsayIIP

#bunsaybatch9

#institutibuprofesional


Jumat, 28 Juni 2024

Komunikasi Produktif dengan Pasangan yang Kaku (Zona 2 hari ke-3)

Kunci dari masalah keluarga itu adalah komunikasi. Bagaimana agar komunikasi berjalan lancar?

Harus di pasang niat di dalam diri Suami dan Istri๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜€

Saat ada rencana perubahan di dalam keluarga atau muncul masalah, maka sepasang suami istri harus meniatkan komunikasi untuk menyampaikan rencananya atau mengurai masalah tersebut dengan cara komunikasi untuk mencairkan suasana. Komunikasi produktif akan tersampaikan jika kedua-duanya mempunyai ruang hati yang luas, dan siap menghadapi penolakan atau kemungkinan respon buruk.

Hari ini, Sabtu 29 Juni 2024, setelah menikmati secangkir kopi dan teh di pagi hari, saya mengajak suami jalan menelusuri persawahan di sekitar rumah mertua. Menikmati suasana pagi di pedesaan yang belum terlalu padat, memang beda. Sungai-sungai dan sawahnya menjadi ciri khas. Udara bersih membantu meningkatkan kapasitas paru-paru untuk menghirup oksigen lebih banyak. Rasanya kadar energi bertambah, kami merasa lebih segar dan bersemangat. 

Sambil menikmati dinginnya udara di pagi hari dan embun pagi, saya dan suami mulai membahas tentang kepulangan kami ke Batam. Rencana awalnya kami di Solo hanya selama 15 hari saja, karena awal Juli 2024 sudah ada jadwal terapi okupasi dan konsultasi ke psikiater untuk mas Anaka. Suami juga harus mulai kerja kembali. Di awal Minggu ini, saya sering memantau harga tiket, dan menyarankan ke suami untuk langsung membelinya. Akan tetapi jawabanya selalu" Tunggu saja, nanti juga harganya turun."

Saat saya mengecek harga tiket di salah satu aplikasi perjalanan, Olala....harga tiketnya hampir dua kali lipat๐Ÿ˜ญ. Mungkin karena masa liburan sekolah. Hal ini tidak kami prediksikan sebelumnya. Kami tidak tahu jadwal liburan anak-anak sekolah, karena kami keluarga homeschooling.  

Ingin sekali berteriak "Tu kan mahal...dibilangin gak percaya, ngeyel sich!"

Alhamdulilah itu hanya di dalam hati saja, saya langsung ingat dan harus konsisten untuk berlatih komunikasi produktif. Saya mengajak suami untuk duduk sebentar di pematang sawah, sambil melihat pemandangan gunung Lawu dari kejauhan. Saya berusaha tenang, berulang kali nafas sadar dan senyum sadar. Lalu saya tanya ke suami apa ada solusi untuk masalah ini. Suami hanya diam, merenung sepertinya ada kebingungan dan penyesalan yang tergambar dari ekspresi wajah yang ditunjukkan.

He :"Kalau menurut mamo bagaimana?"  

Tarik nafas dulu, tahan sebentar lalu buang perlahan, sambil menatap matanya.

Me :"Mamo akan coba menghubungi terapis dan dokter Mas Anaka dulu, untuk meminta pengunduran jadwal berubah esok harinya. Jika mereka setuju, hari ini langsung pesan tiket."

He :"Ya, ayah setuju, terima kasih ya Mo."

Alhamdulilah kesepakatan tercapai bersama tanpa harus mempertahankan ego atau pendapat masing-masing. Dalam hati saya berdoa, semoga Allah SWT memberi kemudahan dan kelancaran dalam segala urusan keluarga kami. Aamin.

Dalam memberikan feedback : saya berusaha mindfulness, mencoba untuk tidak langsung mengungkapkan dialog dalam diri, memberikan kesempatan suami untuk berpendapat, menjaga eye contact agar saling percaya dan terbuka. Fokus ke solusi yang akan diambil, bukan masalah yang sudah terjadi.

Insight dari kejadian ini : memilih waktu dan suasana yang tepat untuk berkomunikasi bersama pasangan sangat mempengaruhi hasil kesepakatan. Tidak perlu mengungkit hal yang menurut saya benar dan menceritakan akibatnya. Berusaha legowo atas apa yang sudah terjadi. Dan bersyukur kepada Allah SWT atas kesempatan yang sudah diberikan kepada kami dapat berkumpul bersama orang tua, saudara plus bonus menikmati keindahan alam pedesaan yang masih asri.

Masya Allah..semoga segala nikmat yang telah diberikan-Nya selalu mengingatkan kami untuk mengucapkan kata syukur dan apa yang sudah saya usahakan dalam komunikasi produktif bersama pasangan  ini bernilai ibadah. Mesti tak semudah teori dalam praktiknya, Insya Allah hasil tidak akan mengkhianati usaha sambil tetap melibatkan Sang Maha Penyayang. Ayo...semangat !!!

#sinergiwujudkanaksi

#ibuprofesional

#IP4ID2024

#bunsayIIP

#bunsaybatch9

#institutibuprofesional





Kamis, 27 Juni 2024

Melatih Komunikasi Produktif dengan Anak Penderita ADHD (Zona 2 hari ke-2)

 Qodarullah, saya dianugerahi kepercayaan oleh Allah SWT untuk membersamai anak ADHD. Anak pertama saya didiagnosa ADHD oleh psikiater sejak usia 3 tahun. Saat ini sudah berusia 11 tahun, masih rutin melakukan terapi okupasi, minum obat dan konsultasi ke psikiater setiap sebulan sekali. Tidak mudah memang berkomunikasi dengan anak ADHD. Anak saya termasuk tipe ADHD yang kesulitan memusatkan perhatian dan kendala dalam hal berkomunikasi. Hal ini tentunya mempengaruhi dalam belajar dan beraktivitas.

Anak saya sering terganggu saat berbicara dalam kondisi bising atau ramai, kesulitan memahami kelompok atau rangkaian kata yang diucapkan secara beruntun, kesulitan menjaga nada suara, berbicara dengan tempo cepat namun tidak jelas, suka keluar dari topik saat pembicaraan berlangsung. Hal ini lah yang menimbulkan salah pengertian pada saat berkomunikasi dengan orang lain.

Pada hari ini, Jumat, 28 Juni 2024, mas Anaka (anak pertama saya) sejak pagi sudah uring-uringan karena tidak jadi memancing bersama pakdhe nya. Dua hari yang lalu, pakdhe nya berjanji akan mengajaknya memancing, namun sejak kemarin, ada pekerjaan yang harus diselesaikan dan tidak bisa ditinggalkan. Mas Anaka merasa kecewa, acara mancingnya gagal, padahal sudah membayangkan akan dapat ikan yang banyak. Mas Anaka menganggap pakdhe tidak konsisten dengan janjinya.

Saya membiarkan dan memberikan waktu untuk mas Anaka meluapkan rasa kecewanya. Saya bahkan mengizinkan dia menangis jika ingin menangis. Dan meminta dia untuk memberi tahu saya jika dia sudah merasa lebih baik. 20 menit kemudian, dia menemui saya dan berkata "Mo, mas sudah tenang."

Mas Anaka meminta saya untuk memeluknya. Saya mengajaknya untuk box breathing sebanyak 4 kali sambil mengucakan istighfar. Saya bertanya apakah dia mau makan atau minum sesuatu? ternyata dia hanya mau minum saja. Setelah itu saya mengajak dia duduk di kursi teras yang ada di depan rumah neneknya. Kami duduk berdua berdampingan, sambil menatap matanya dan mengelus punggungnya.

"Mamo kemarin juga merasa kecewa dan sedih. Mas ingat tidak saat di Surabaya, kita ketinggalan kereta. Padahal mamo sudah memperhitungan perjalanan, kita tidak tahu ternyata jalanan di Surabaya macet."

Kami pun tertawa bersama saat mengingat kejadian itu. Saat melihat senyumnya kembali cerah, saya mulai memberikan feedback.

"Mas Anaka, sedih boleh, kecewa juga boleh. Hari ini Pakdhe tidak bisa mengajak mas mancing, pasti nanti Pakdhe akan mengganti dengan kegiatan lain."

1 jam setelah kami membahasa masalah perpancingan, tiba-tiba ada whatsapp masuk dari pakdhe nya.

"Ojo sedih mas, nanti malam kita bakar-bakar bikin sate"

Makin lebar senyum mas Anaka selebar halaman rumah neneknya ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜ƒ

Dalam memberikan feedback hari ini, saya berusaha bersikap lembut dan tenang, tidak tersulut reaksi emosi yang timbul dari mas Anaka. Saya menganggap reaksi itu wajar dan normal. Memberikan waktu kepada mas Anaka meluapkan emosinya, agar dia belajar mengenal emosi dan belajar mengelolanya. Saya memposisikan sebagai tim dia yang juga pernah merasa kecewa, lalu memberi nasehat berdasarkan pengalaman yang kami alami bersama. Melakukan kontak fisik dengan memberinya pelukan dan mengusap punggungnya perlahan.

Insight dari kejadian hari ini adalah berkomunikasi dengan anak penderita ADHD yang dalam masa puber memang sedikit lebih rumit. Di usia ini selalu ada alasan atau jawaban seperti ingin melawan. Inilah saatnya saya merubah peran menjadi seorang teman. Memastikan suasana hatinya tidak mudah tersinggung dengan memenuhi kebutuhan perutnya kenyang terlebih dahulu serta memperkenalkan konsep akan ada hikmah dibalik kejadian. 

Semangat...semangat semoga ikhtiar saya untuk terus berlatih komunikasi produktis agar menjadi ibu yang menyenangkan untuk anak-anak di catat sebagai amal jihad oleh Allah SWT. Amin ya Rabbal Alamin. Terima kasih.


#sinergiwujudkanaksi

#ibuprofesional

#IP4ID2024

#bunsayIIP

#bunsaybatch9

#institutibuprofesional

Rabu, 26 Juni 2024

Melatih Komunikasi Produktif dengan Orang Tua Lanjut/Lansia (Zona 2 hari ke-1)

Hampir 1 minggu lebih saya berada di kampung halaman tepatnya di kota Solo. Tugas yang diberikan pada zona 2 dengan tema komunikasi produktif terutama dalam memberikan feedback, mengingatkan saya dengan keluhan saudara-saudara saya tentang bagaimana mereka berkomunikasi dengan bapak  yang sudah berusia 78 tahun. Sejauh ini, mereka menyampaikan keluh kesahnya tentang bagaimana perilaku bapak. Lalu saya akan menelpon bapak dengan menggunakan pulsa bukan paket data. Bapak hanya tinggal sendiri dirumah peninggalan orang tuanya dulu, sedangkan saudara saya yang lain rumahnya berjauhan dengan rumah yang bapak tempati.

Sebelum saya kembali ke Batam, saya bersama saudara yang lain sepakat berkumpul bersama untuk membahas tentang bapak. Akhirnya tadi malam, kesempatan itu datang. Diskusi berjalan di ruang tengah rumah kakak pertama saya. Ada Bapak, enam anaknya, dan satu anak yang hadir online melalui video call.

Awalnya diskusi berjalan lancar, namun saat dipertengahan, kakak kedua saya menyampaikan keluhan-keluhan tentang perilaku bapak yang tidak semestinya sebagai orang tau dan seorang kakek. Kakak pertama dan adik-adik saya juga membenarkan dan menambahkan beberapa hal lainnya. Saya hanya mendengarkan, karena saya tinggal di Batam, jadi tidak melihat langsung bagaimana perilaku harian bapak selama ini. Saya berusaha mindfulness, box breathing berkali-kali agar tidak ikut terbawa suasana yang penuh reaksi negatif.

Saya melihat bapak tertekan dan merasa tidak nyaman, saat anak-anaknya mempertanyakan "Mengapa begitu, Apa tidak malu dll?"

Bapak hanya menjawab singkat " Aku gak popo, sak karepmu kowe kabeh arep anggap piye-piye karo aku"

Suasanapun menegang sampai akhir diskusi yang tidak mendapatkan kesepakatan bersama. Saudara-saudara saya sudah tersulut emosi karena mereka tidak puas akan jawaban bapak yang seperti itu.

Sebelum bapak kembali ke rumah nenek, saya deketin bapak sambil bilang "Yuk pak, besok kita sarapan soto berdua di Warung Soto Sastro". Bapak menjawab "Yo, bapak tunggu".

Hari ini, Kamis, tanggal 27 Juni 2024 pukul 06:00 WIB saya dan bapak sarapan berdua dengan menyantap segernya semangkuk soto di Warung Soto Sastro. Saat menjemput bapak, saya membayangkan akan pergi kencan dengan pacar pertama saya. Sepanjang jalan menusuri persawahan menuju ke lokasi warung, saya jadi ingat dulu bapak membocengkan saya saat akan mengantar saya pergi ke sekolah. Kami bernostalgia bersama, bercanda tawa sambil menghirup udara pagi dan melupakan sejenak ketegangan yang terjadi tadi malam.

Selama menikmati soto, saya berusaha untuk tidak mempertanyakan masalah yang terjadi malam tadi. Kami hanya membahas tentang kabar teman-teman saya yang satu kampung dulu, atau menyapa pengunjung yang datang untuk sarapan. Sampai akhirnya bapak berkata " Bapak iki wis kesel, sepi rasane sejak ibuk mu wis gak ono."

Ibu saya meninggal di tahun 2013, sudah 11 tahun bapak saya hidup sendiri di rumah peninggalan nenek saya. Bapak tidak mau tinggal bersama salah satu anaknya yang rumahnya di sekitar Solo, dengan alasan tidak mau menyusahkan anak. Selama ini bapak mencari kesibukan sendiri untuk mengisi hari-harinya. Bapak masih suka pergi sendiri ke Yogyakarta, datang ke kampus-kampus yang banyak mahasiswanya. Bapak suka ngobrol sama dosen kenalannya. Sewaktu bapak muda dulu, kampus di Yogyakarta adalah tempatnya jualan barang dagangan bapak.

Dengan apa yang dilakukan bapak ini, ternyata berpengaruh pada lingkungan sekitar tempat tinggal bapak. Pulang dari Yogya di sore hari, sampai rumah setelah magrib. Lalu bapak akan istirahat. Hal ini yang menjadikan, bapak jarang berkumpul dengan para tetangga. Bapak juga sering tidak tahu ada kabar apa disekitar tempat tinggalnya. Kakak atau adik saya yang mau menjenguk bapak, harus pulang dengan rasa kecewa karena bapak jarang ada dirumah. Bertambah jengkel jika HP bapak mati, sehingga tidak bisa dihubungi.

Saat berkomunikasi dengan bapak, saya berusaha memberikan wajah berseri, menahan agar air mata tidak jatuh, berusaha tidak menyela, mendengarkan sampai bapak selesai berbicara. Saat memberikan feedback, saya berusaha berbicara dengan lembut, tidak terburu-buru, menggunakan bahasa yang sederhana dengan intonasi pelan, sambil menatap mata dan memegang tangannya.

"Bapak, kulo bangga memiliki seorang bapak seperti bapak. Lakukan apapun yang membuat bapak merasa bahagia asalkan tidak bertentangan dengan norma agama. Kabari anakmu ini, tiap bapak mau bercerita. Aku sayang bapak".

Dalam latihan memberikan feedback untuk hari ini, saya tidak memberikan feedback panjang yang terkesan menggurui atau menyalahkan atas apa yang dilakukan bapak. Saya hanya memposisikan sebagai anak yang merasa bangga mempunyai bapak seperti beliau. Saya merasa bersyukur karena bapak mau terbuka dengan saya. Mulai esok pagi hingga hari di mana saya harus kembali ke Batam, saya akan meningkatkan bonding bersama bapak dengan memperbanyak kegiatan bareng yang melibatkan bapak.

Insight dari kejadian tadi malam dan pagi hari ini adalah seiring berkurangnya usia seseorang, maka semakin berkurang kemampuannya dalam menyampaikan dan menerima sebuah informasi. Diskusi yang dilakukan tadi malam mengalami kegagalan komunikasi karena adanya perasaan berburuk sangka atau curiga, serta sikap yang kurang tepat karena seolah-olah seperti mengadili bapak. Setelah apa yang saya lakukan tadi pagi dengan mengajak bapak sarapan berdua, bapak lebih terbuka dan menceritakan semua tentang apa yang beliau rasakan. Bapak butuh privasi dan kenyamanan untuk bercerita kepada anak yang dianggapnya bisa memahaminya bukan menghakiminya. Menyampaikan pesan kepada orang tua usai lanjut sebaiknya singkat, jelas, lengkap, sederhana dibantu bahasa tubuh agar mudah dipahami. Bapak pun paham, tidak mempermasalahkan bagaimana sikap anak-anaknya tadi malam.

Alhamdulilaah, semoga konsisten menjalani komunikasi produktif seperti ini setiap hari ๐Ÿ˜Š. Bismillaah...


Rabu, 19 Juni 2024

Hari ke-14 Kenyataan Tentang Diriku

 Aku menemukan ternyata diriku belum mempunyai kemampuan dan keterampilan kesadaran diri yang baik. Aku masih menjadi pribadi yang tidak bisa diganggu dan termasuk orang yang "Sensitive Person". Terkadang aku memberikan respon fisik, mental dan emosional yang akut terhadap rangsangan eksternal maupun internal. Karena sangat sensitif, aku menjadi orang yang introvert, lebih suka bekerja dari rumah, sulit beradaptasi dengan situasi baru. Sangat melelahkan saat berada di kerumunan, kebisingan, dan berinteraksi sosial dengan banyak orang. Setelahnya aku akan butuh hibernasi panjang untuk memulihkan energi kembali.

Ada kalanya, memiliki pribadi yang sensitif dipandang sebagai hal yang negatif, sebagian orang menganggap terlalu "baperan". Aku menyadari menjadi pribadi sensitif ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Namun aku sadar, jika kepribadianku ini memiliki kelebihan dan kekurangan sama seperti tipe kepribadian yang lainnya. Dari aspek positif, aku adalah orang yang pemikir, detail, konsisten, memiliki empati yang tinggi, peka terhadap perasaan orang lain, menjadi teman curhat yang baik dan pendengar yang baik. Sedangkan aspek negarifnya, aku pribadi yang tidak suka konflik, perfeksionis, takut akan penolakan, cemas yang berlebihan, tidak suka distraksi, dan tidak suka emosiku diketahui orang lain.

Menjadi pribadi yang sensitif menimbulkan banyak tantangan, terutama ketika berhadapan dengan banyak orang dan lingkungan yang berbeda. Sehingga aku harus menetapkan target perubahan supaya dapat mengelola dengan baik, agar tidak mengganggu aktivitas harian dan menimbulkan kecemasan yang berlebihan. Target perubahan yang akan aku ambil adalah:

  • Introspeksi atau observasi diri. Berhenti sejenak dan memperhatikan apa yang terjadi dalam diri sendiri (pikiran, perasaan, perilaku, kebutuhan)
  • Membuat catatan harian. Mengekspresikan diri melalui tulisan
  • Mengenali emosi, ketakutan, kesedihan yang muncul, maka dapat menghadapai rangsangan yang bersifat sementara.
  • Melakukan perawatan diri seperti makan makanan sehat, olahraga secara teratur, meditasi, body scanning, box breathing, menetapkan jam tidur malam dibawah pukul 22:00 WIB
  • Melatih rasa welas asih untuk memberi diri ini cinta, perhatian, dan kebaikan (Self love)
  • Keterbukaan diri dengan membuat jadwal konsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Syukur Alhamdulilah, akhirnya saya masih tetap konsisten untuk menyelesaikan 14 tantangan pada zona 1 ini. Semoga saya tetap semangat melanjutkan tantangan berikutnya dan menyelesaikan semua zona dan mendapatkan keberkahan dari ilmu yang saya dapatkan dari kelas bunda sayang batch 9 ini. Terima kasih.









Selasa, 18 Juni 2024

Hari ke-13 Surat Cinta untuk Diriku

 





Tantangan hari ketigabelas ini membuat saya termehek-mehek ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

Ketika menulis suratnya, saya merasa tenang, damai, mengalir begitu saja apa yang ingin saya tuliskan. Namun saat membacakannya di depan cermin, hati saya bergetar, suara tercekat. Berusaha menahan air mata yang hendak keluar. Pedih rasanya tenggorokan untuk menelan ludah. Mencoba bertahan agar air mata ini tidak keluar sampai selesai membacanya. Sayang sekali pertahanan saya akhirnya goyah, sebelum alinea terakhir, rasanya sudah tidak sanggup melanjutkan. Saya tumpahkan air mata ini sampai saya merasa tenang, kemudian melanjutkan membaca sampai selesai. Memeluk suami dan anak-anak, sambil bilang meminta maaf jika belum bisa menjadi istri dan ibu yang membanggakan mereka.

Insight setelah menulis dan membaca surat cinta adalah :
  • Bersyukur dengan tidak membandingkan hidupku dengan yang lain. Orang lain yang kelihatannya sudah sukses dan hebat, ternyata saya gak tau dibalik keberhasilannya mungkin mereka pernah jungkir balik menghadapi masalahnya sendiri.
  • Sabar dalam menghadapi masalah, tidak gegabah dalam mengambil keputusan, tidak terburu-buru. Mencoba lebih menghargai proses, jangan kepingin cepat lihat hasilnya. Sesering mungkin melakukan box breathing.
  • Ikhlas untuk mengampuni diri sendiri, menerima kegagalan dan penolakan yang pernah saya dapatkan. Serta tidak harus memenuhi ekspektasi orang lain.
Tenang..tenang dan tenang. Tidak harus terburu-buru. Tidak ada salahnya menjadi orang yang biasa saja. Meluangkan waktu untuk diri sendiri, serta berkumpul sama orang-orang yang menebar kebaikan. Terima kasih.


Nobody can take a better care of you, rather than yourself.

Love, Novia



Minggu, 16 Juni 2024

Hari ke-12 Mengenal Diri




Alhamduliah, segala puji bagi Allah SWT yang selalu memberikan saya kenikmatan sehat, sehingga sampai hari keduabelas ini, saya masih tetap berkomitmen dan konsisten untuk menjalankan tantangan di kelas Bunda Sayang IP batch 9. Hikmah yang saya dapatkan hari ini adalah saya merasa sering sekali mengucapkan rasa syukur, memandang positif segala peristiwa yang yang terjadi dan merespon dengan lebih baik, bukan sekedar terpengaruh oleh situasi atau emosi. Saya merasa lebih bahagia, percaya diri dan bertanggungjawab atas pilihan yang sudah saya ambil. Semakin mampu untuk melihat diri sendiri secara jelas dan objektif termasuk memantau pikiran, emosi serta tekanan-tekanan yang saya rasakan.

Melalui tabel mengenal diri, saya bisa memutuskan sesuatu dengan lebih baik, mencintai diri sendiri, menghargai kerja keras yang sudah saya lakukan, serta mengontrol diri semakin lebih baik. Lebih fokus saat melakukan sesuatu dengan berusaha hadir dalam setiap moment yang berlangsung, baik secara perasaan atau pikiran. Saat saya fokus, pengambilan keputusan bisa lebih bijak. Terima kasih.


Sabtu, 15 Juni 2024

Hari ke-11 Mengenal Diri

 


Insight yang saya dapatkan ditantangan hari kesebelas ini adalah saya mulai sadar diri untuk mengendalikan perasaan, pikiran dan perilaku saya dalam merespon realitas eksternal yang terjadi. Terlatih untuk mengatasi masalah serta menjaga masalah tetap dalam jalurnya dan merasa nyaman dengan diri saya sendiri. Saya mulai mendalami emosi dan reaksinya dengan menerimanya, mengekspresikan dengan cara yang tepat yaitu memberitahu orang lain, terutama suami dan anak-anak tentang apa yang membuat saya merasa terganggu atau tidak nyaman.

Berpikir tenang sebelum mengatakan atau melakukan sesuatu agar saya tidak menyesalinya. Semakin baik dalam mengelola emosi dengan sering melakukan nafas sadar, body scanning serta rajin olahraga. Saya merasa badan ini semakin sehat, jarang merasakan pegel saat bangun tidur. Alhamdulilah wasyukurilah banget, saat melakukan pengecekan gula darah dan kholestrol hasilnya masih normal yaitu di bawah angka 200. Terima kasih.

Hari ke-10 Mengenal Diri

 


Insight yang saya dapatkan adalah saya semakin tenang saat menghadapi realitas eksternal, lebih percaya diri, mampu mengontrol perilaku dalam diri, maupun saat berhubungan dengan orang lain. Saya juga semakin mengetahui apa kelebihan dan kekurangan saya, sehingga saya dapat meningkatkan apa kelebihan dan menutupi sisi lemah saya. Dan yang paling penting sekali adalah saya mulai bisa mencintai diri sendiri dan menerima segala hal serta lebih jujur pada diri sendiri. Terima kasih

Kamis, 13 Juni 2024

Hari ke-9 Mengenal Diri

 

Insight tantangan di hari kesembilan ini adalah aku merasa penting sekali memetakan reaksi emosi yang terjadi. Dengan menuliskan apa yang aku rasakan, aku lebih mampu mengendalikan emosi lebih baik. Sehingga aku mengetahui bahwa sumber pemicu atau kejadian yang menyebabkan reaksi negatifku adalah tingkah dan perilaku anak-anak. Padahal sehari-hari waktuku habis bersama mereka, secara langsung energiku juga akan habis untuk hal itu. Jika mereka melakukan tindakan yang menurutku sesuai jalur kesepakatan, hari-hariku rasanya adem ayem bahkan damai sentosa. Sedangkan reaksi eksternal yang berasal dari lingkungan luar, aku hanya berani mengungkapkan dalam hati saja, tidak berani untuk menegur secara langsung. Mungkin rasa tidak enak atau sungkan yang menyebahkan ketidakberanian itu. Jikapun menyampaikan, aku lebih suka melakukan pendekatan secara perlahan dan memakluminya.

Aku merasa lebih baik, merasa filter lebih bersih sehingga aku mampu mengendalikan reaksi apa yang harus aku lakukan. Terutama dalam membersamai anak-anak. Walaupun masih mengomel, tetapi sudah ada perubahan intonasi dan tidak pajang lebar lagi. Perubahan ini membuat anak-anak merasa lucu, karena saat aku mengomel, mereka malah senyum-senyum. Respon merekapun membuatku ikut tertawa. Aku terus berlatih untuk menjadi seorang ibu yang membuat mereka nyaman, menyenangkan dan berusaha lebih bersabar lagi..lagi...dan lagi. Terima kasih.

Hari ke-8 Mengenal Diri


       

Insight setelah saya mengisi tabel ini adalah saya merasa emosi 90 detik saya terbajak oleh pengalaman masa lalu dan ekspektasi yang tinggi. Dari realita eksternal yang terjadi, saya berharap peristiwa itu tidak akan mengganggu jadwal harian yang sudah saya rencanakan. Sulit rasanya bagi saya untuk mengatur ulang kembali. Rasa kekhawatiran dan kecemasan sering memblokade, sehingga menimbulkan asumsi-asumsi yang belum tentu terjadi. Hal ini terkadang yang membuat saya ragu & takut untuk melangkah ke depan.

Dengan menuliskan peristiwa di tabel, menyadari reaksi emosi, saya merasa lebih ringan dan mampu mengekspresikan berbagai emosi yang saya rasakan. Ternyata saya perlu berlatih lagi dalam memanajemen emosi agar mampu berkomunikasi dengan tulus dan terbuka dengan orang lain serta membawa emosi yang menyenangkan dalam keadaan apapun. Saya juga harus memiliki pemahaman pemicu emosi terlebih dahulu untuk mengontrol dan mengendalikan reaksi emosi negatif maupun positif. Terima kasih.


Rabu, 12 Juni 2024

Hari ke-7 Persepsi Keluarga Terdekat Terhadap Emosi Diriku

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Tidak ada keluarga yang sempurna, terkadang ada perdebatan karena mempertahankan ego masing-masing, bahkan sewaktu-waktu saling diam-diaman, berhenti bicara. Namun pada akhirnya keluarga adalah keluarga, dimana cinta dan kasih sayang akan selalu ada. Keluarga membuat hidupku makin berwarna. Keluarga kecilku ini tempat aku belajar menjadi diri, istri dan ibu yang lebih baik.

Tantangan di hari ketujuh ini menceritakan bagaimana persepsi keluarga terdekat (suami dan anak) yang sering mereka katakan terhadap emosi diri. Dulu pernah meminta suami dan anak untuk menuliskan bagaimana pandangan mereka tentang diri ini. Hasilnya, mereka banyak menuliskan sifat negatif daripada sifat positif. Dulu saya masih menyangkal dan beralasan untuk mencari pembenaran. Hari ini saya kembali meminta mereka menuliskan kembali bagaimana persepsi mereka tentang emosi saya. Setelah membaca tulisan mereka, sayapun kembali mengingat ternyata mereka sering mengatakan hal itu, namun saya jarang untuk menyadari untuk mengendalikannya atau mengurangi porsinya. Si sulung sering mengatakan bahwa saya ini cerewet, suka mengomel panjang lebar gak habis-habis. Dia juga mengatakan jika saya suka mengatur dan suka marah-marah. ๐Ÿ˜†

Lalu reaksi saya bagaimana saat membaca tulisan si sulung? 

Saya tertawa, saya tersenyum dan memandang dari sudut pandang lain, jika ternyata si sulung sudah lebih terfokus dalam melakukan apa yang diperintahkan. Tidak seperti dulu, dia lebih banyak menuliskan tentang ketidaksukaannya dengan aturan-aturan rumah yang sudah kami sepakati bersama. Hal positif yang dituliskan cukup membuat saya merasa bahagia, si sulung menuliskan bahwa saya adalah seorang ibu yang disiplin, pendengar yang baik saat diajak ngobrol. ๐Ÿ˜

Bagaimana persepsi dari suami ?

Hidup bersama dalam kurun waktu 12 tahun, menjadikan saya paham terhadap karakter suami yang tidak suka melakukan hal-hal romantis. Suami lebih suka langsung bertindak, sulit untuk mengungkapkan bahasa cintanya. Suami sering mengatakan kata terima kasih saat menjelang tidur, terima kasih sudah membersamai anak-anak, terima kasih sudah mengerjakan pekerjaan rumah tangga, terima kasih sudah mendukung dan mendampingi sampai detik ini. Pesan yang selalu teringat adalah untuk lebih bersabar, ikhlas mengasihi dalam mendidik anak-anak dan menjadi seorang istri untuk bisa menjaga marwah suami. Love you polllll buat pak Su...๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ˜˜

Insight yang saya dapatkan adalah saya memahami bagaimana pentingnya komunikasi dalam sebuah keluarga. Tidak perlu harus bersikap romantis untuk menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang terhadap pasangan. Menerapkan pola asuh yang berbeda jika anak sudah mulai memasuki usia remaja. Menjadi teman, yang siap mendengarkan cerita dan membuatnya nyaman namun masih dalam lingkar kendali kita. Aku sungguh mencintai keluarga kecilku. Terima kasih.




Selasa, 11 Juni 2024

Hari ke-6 Presepsi Keluarga Besar Terhadap Emosi Diriku

 Berbicara tentang keluarga yang terbayang di benakku adalah ibu, ayah, anak-anak yang terjalin karena ada ikatan darah saling mencintai dan mendukung. Keluarga merupakan tempat untuk membentuk kepribadian anak. Anak dididik dan orang tua mengajarkan nilai-nilai yang berguna, anak menerima nilai-nilai yang diwariskan oleh orang tuanya demi perkembangan dirinya. Perkembangan kepribadian anak tidak dapat dipisahkan dari keadaan keluarga, karena keluarga adalah tempat pertama anak bertumbuh dan berkembang.

Aku anak keenam dari sembilan bersaudara. Jarak antara saudara satu dengan saudara yang lain selisih sekitar dua tahun. Namun jarak aku dengan adik pertama sekitar 5 tahun. Jika ada pepatah yang mengatakan "banyak anak, banyak rejeki", awalnya aku memahami jika banyak anak akan banyak rejeki yang diperoleh. Ternyata "banyak anak, banyak rejeki yang dikeluarkan".๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

 Sejak usia empat sampai lima belas tahun, aku hidup terpisah dengan keluarga. Hal ini yang membentuk aku saat remaja menjadi pribadi yang mandiri, keras kepala, egois dan tidak mau berbagi. Hubungan dengan orang tua dan saudara kandung pun sangat jauh. Kami hanya bertemu saat ada acara saja seperti momen lebaran, pernikahan atau arisan. Besar dengan keluarga yang bukan inti, juga menjadikan aku maunya menang sendiri. Adik-adikku dulu sering mengatakan bahwa aku seorang kakak yang garang, pemarah dan pelit. Sedangkan kakak-kakakku, mereka mengatakan bahwa aku adalah orang yang nekad, cengeng, dan nerimo. Berbeda lagi dengan ayah dan ibuku, mereka mengatakan bahwa aku anak yang cerdas, penurut, pengertian dan tidak menyusahkan mereka.

Saat mengerjakan tantangan hari keenam ini, selain kembali bertanya dengan mereka, aku juga flash back bagaimana karekterku saat bersama mereka. Hasilnya pun tidak jauh dari apa yang sudah tertuliskan diatas. Lalu bagaimana responku? 

Alhamdulilah, responku tenang, damai, tidak berontak dan menerima. Karena memang itulah diriku. Beginilah aku dengan takdirku. Aku mengakui semuanya , mengatakan kepada mereka kenapa itu ku lakukan, kemudian kami saling memaafkan. Bahkan peristiwa dulu yang menjengkelkan, menjadi bahan bercandaan ketika kami membahasnya dalam group keluarga.

Insight yang saya dapatkan yaitu :

  • Keluarga adalah tempat aku kembali pulang. Merekalah yang paling mengerti, memahami, menerima, dan memaafkan apapun kesalahan yang aku lakukan
  • Hubungan kakak adik adalah tali persaudaraan yang tidak pernah putus. Walaupun ada banyak perbedaan persepsi tentang sesuatu hal, itu adalah cara mereka menyampaikan rasa perhatian dan kasih sayang kepada diriku.
  • Hubungan antar anggota keluarga ternyata hubungan yang saling bekerja sama melahirkan sikap seperjuangan, persaudaraan, persahabatan sehingga tercipta rasa aman dan saling mendukung satu sama lain.
  • Keluarga sangatlah berarti penting bagi hidupku. Orang tua mencintaku dan mendidikku dengan penuh kasih sayang, dan sebaliknya akupun harus mencintai orang tua dan saudaraku.
  • Melakukan komunikasi yang baik, benar dan jujur, dapat mengungkapkan pikiran-pikiran, terutama mengenai perasaan apa yang aku alami, saling mendengarkan dan membuka diri.
Terima kasih kepada tim bunsay batch 9 untuk tantangan ini. Aku kembali belajar memperbaiki hubungan dengan keluarga yang beberapa waktu lalu sempat tegang.
๐Ÿ’—๐Ÿ’—


Minggu, 09 Juni 2024

Hari ke-5 Mengenal emosi dominanku (emosi positif)




Ditantangan hari keempat kemarin, reaksi emosi yang banyak saya tuliskan adalah emosi negatif. Hari kelima ini, saya menuliskan banyak pemicu atau peristiwa yang menyebabkan tubuh saya bereaksi emosi positif. Ada 12 peristiwa terkesan yang terjadi dalam kurun waktu dalam 2 minggu ini yang saya tuliskan di tabel temperatur emosi. Emosi positif saya yang dominan adalah rasa gembira dan bersyukur. Perasaan gembira menandakan bahwa saya sedang merasakan kenyamanan pada sebuah pengalaman. Sedangkan rasa bersyukur yang memotivasi saya untuk membalas sesuatu dan menyadarkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dua perasaan ini mampu memberikan rasa kenyamanan dan sensasi menyenangkan bagi saya. Tentu saja berpengaruh juga kepada kesehatan mental dan fisik saya. Reaksi ini muncul ketika saya berhasil mencapai tujuan, mendapatkan keinginan atau saya telah berhasil melewati masalah.

Insight di tantangan hari kelima ini adalah saya menyadari banyak peristiwa kecil yang memicu reaksi emosi positif. Namun saat emosi ini terjadi, saya hanya membiarkannya dan tidak memperdulikannya dalam artian menganggap biasa saja. Padahal emosi positif perlu perhatian juga. Saya juga harus mengendalikannya agar tidak berlebihan yang akhirnya membuat saya menjadi kurang produktif atau malah santai.

 Mengenal diri dengan tabel temperatur emosi ini menjadikan saya belajar untuk meregulasi emosi yaitu saya mulai menyadari emosi yang muncul baik negatif atau positif, menerima emosi sebagai sesuatu yang normal, merasakan dibagian tubuh mana emosi saya rasakan dan melepaskan atau mengizinkan emosi ini pergi dengan seiring hembusan nafas. Menguatkan diri dengan mengucapkan  kalimat untuk afimasi diri " Tidak apa-apa, jika tidak selalu baik-baik saja, aku masih boleh kok merasa sedih, marah, takut atau bahagia. Karena itu hal-hal yang manusiawi dan wajar dialami. Asalkan rasa itu tetap dalam porsinya dan tidak terjadi secara berlebihan". Terima kasih.


Hari ke-4 Mengenal emosi dominanku (emosi negatif)

 Mengawali hari dengan selalu bersyukur, tetap melakukan body scanning dan sesering mungkin box breathing adalah kunci saya untuk tetap mindfulness menjalani hari. Hal ini saya lakukan agar saya merasa lebih tenang dan mampu berpikir dengan jernih. Mengenal diri melalui reaksi terhadap situasi tertentu yang dilakukan oleh tubuh menjadi salah satu cara saya untuk meningkatkan dan mengembangkan kematangan emosi untuk menjada kesehatan mental. Jika bicara tentang emosi, banyak yang beranggapan bahwa emosi selalu diartikan dengan hal negatif. Kenyataannya, emosi ada juga yang positif. Saya jadi teringat dengan film animasi "Inside Out" bagaimana lima manifestasi dari emosi yang mengatur tindakan dan kenangan seorang gadis yang bernama Riley.

Di hari keempat  zona 1 "Self Awareness" kelas bunsay batch 9, tantangan yang diberikan adalah mengenal diri dengan tabel temperatur emosi. Setelah menuliskan di tabel, ada delapan peristiwa yang menjadi pemicu, reaksi emosi, sensasi tubuh, serta tindakan apa yang saya lakukan untuk lebih nyaman dari pengalaman hidup yang pernah saya jalani, saya mengetahui bahwa reaksi dominan yang banyak terpengaruh dari peristiwa sehari-hari adalah emosi marah. Respon emosional yang kuat terhadap situasi yang saya anggap sebagai ketidakadilan atau pelanggaran atas aturan yang sudah menjadi kesepakatan bersama. Ada dua ekspresi marah yang muncul. Pertama ekspresi marah terjadi secara spontan dan cepat serta ditandai dengan teriakan yang menandakan kemarahan saya berada pada level tinggi. Hal ini pemicunya adalah aktivitas yang dilakukan anak-anak jika sudah diluar kendali. Kedua ekspresi marah yang cenderung saya rasakan sendiri tanpa mengungkapkannya sebagai pertanda kemarahan saya pada level sedang. Pemicunya biasanya pasangan atau orang dewasa.

Insight setelah saya mengisi tabel temperatur emosi adalah saya menyadari emosi marah ini dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, saya mempunyai trauma dengan suara teriakan dan tidak punya keberanian untuk mengungkapan perasaan saya. Secara tidak sadar mempengaruhi respon saat menghadapi kemarahan. Saya sadar sebenarnya emosi marah merupakan hal yang normal dan juga manusiawi. Seringnya memendam amarah menyebabkan saya sering mengalami kecemasan. Saat ini yang menjadi perhatian saya adalah bagaimana cara mengekspresikan rasa marah, bukan tidak boleh merasa marah. Cara yang saya lakukan saat mengendalikan kemarahan yaitu dengan menenangkan diri, mengkomunikasikan perasaan dengan tepat, mengubah pola pikir serta melihat dari sudut pandang yang berbeda. Terima kasih.




Jumat, 07 Juni 2024

Hari ke-3 Body Scanning & P3K Kesadaran

 Body scanning & P3K kesadaran adalah latihan yang memang sangat perlu saya lakukan. Agar saya dapat memahami dan mengenali diri saya sendiri secara mendalam, termasuk kekuatan, kelemahan, tujuan dan prefensi pribadi. Body scanning terkadang saya lakukan 2-3 kali, saya merasa tidak cukup jika hanya melakukan saat pagi saja. Kembali saya ulangi di waktu siang atau sore bahkan menjelang tidur. Respon tubuh sangat bagus, yang biasanya saya susah tidur malam, dan harus membaca beberapa halaman buku agar tidur dengan sendirinya. Alhasil saat bangun tidur, bukannya kembali segar, tetapi badan rasanya sakit semua. 

Di hari ketiga saya melakukan body scanning, saya merasa tarikan nafas saya semakin lembut, langsung dapat membayangkan dan menvisualisakan serta menandai bagian tubuh mana yang kurang nyaman. Efeknya tidak seperti hari pertama & kedua yang ada rasa mual atau muntah. Saya bisa menerima dengan ikhlas, lebih legowo dan tidak melawan. Tubuh seperti ada alarm yang menandakan bahwa saya harus segera melakukan dan tidak menunda-nunda jika tubuh ini perlu istirahat saat capek, butuh makan saat lapar, butuh minum saat haus dan butuh tenang di segala situasi. Sangat perlu menyisihkan waktu untuk merenung dan memeriksa diri. Meninjau emosi dan segala tindakan sebagai sarana refleksi diri.

P3K kesadaran, saya lakukan lebih sering dari body scanning, sambil senyum sadar dan menggunakan bantuan manik-manik. Semakin hari, jumlah maniknya semakin banyak yang menandakan bahwa saya lebih banyak dalam kondisi sadar saat beraktivitas dengan anak-anak. Merespon dengan lebih bijak ketika si sulung dan si bungsu membutuhkan perhatian penuh. Intonasi dalam saya berbicara juga turun beberapa oktaf, seolah-olah ada filter yang mengendalikannya.

Insight di hari ketiga ini adalah saya mampu meningkatkan tingkat self awareness sehingga dapat mengambil langkah-langkah yang efektif untuk mencapai kebahagiaan yang lebih memuaskan, bahagia dan bermakna. Menyadari, mengenali dan mengelola emosi yang muncul dalam diri dan menemukan pola-pola untuk menjaga keseimbangan emosional. Dan menerima umpan balik dari orang lain dengan objektif , yang saya anggap sebagai kesempatan untuk belajar, berkembang, dan berkomitmen untuk membuat perubahan positif. Terima kasih.




Hari ke-2 Latihan Body Scanning & P3K Kesadaran

 Hari ini adalah hari kedua tantangan untuk latihan body scanning dan P3K kesadaran. Mengawali hari penuh rasa syukur dengan perasaan tenang yang sungguh luar biasa. Mencium kening anak-anak sambil mengucapkan doa. Mereka adalah makhluk ciptaan Allah SWT dengan keistimewaannya yang keberadaannya mengantarkan saya untuk terus belajar menjadi orang tua. Menceritakan apa yang saya lakukan, apa yang saya rasakan dan apa yang saya dapatkan setelah kemarin melakukan body scanning dan P3K kesadaran kepada pasangan ternyata memberi dampak besar dalam kualitas tidur saya.

Mengawali body scanning di jam 08.00 pagi setelah mengantar anak-anak pergi mengaji. Saya memilih dengan posisi terlentang, karena lebih nyaman dari pada posisi duduk bersila. Kemarin dengan posisi duduk bersila, saya merasakan nyeri punggung karena saya mempunyai masalah di tulang belakang dan kebas di kaki kiri. Memusatkan perhatian sambil memejamkan mata dan senyum sadar, mengikuti intruksi dari audio membuat saya menerima semua rasa yang ditimbulkan. Saya merasakan nyeri di bagian tengkuk atau leher belakang, kemudian mengusapnya pelan sambil membaca Al-fatihah. Timbul rasa mual dan muntah, tetapi tidak seperti kemarin. Memeluk diri sendiri sambil berdoa memohon ampunan serta mohon izin agar bisa menerima dan memaafkan segala hal yang belum terselesaikan. Kembali menarik nafas secara pelan dan sadar sambil berkata " Saya luar biasa, ini akan menjadi lebih baik. Tetap kuat, percaya pada diri sendiri, dan segalanya akan terjadi pada tempatnya".

Latihan P3K kesadaran lebih sering saya lakukan disaat membutuhkannya dan sadar saya perlu melakukannya. Saya masih menggunakan bantuan manik-manik untuk mengetahui seberapa sering saya melakukannya. Seperti kejadian tadi pagi, sebelum berangkat mengaji, si sulung mencari buku bacaan kesukaannya. Setelah di cari dan tidak menemukannya, saya baru ingat jika buku tersebut ada di dalam tas dan ternyata tasnya ketinggalan di bagasi mobil, karena buku tersebut dibawa kemarin saat si sulung melakukan terapi di rumah sakit. Sedangkan mobilnya dibawa ayahnya bekerja. Spontan si sulung berkata "Kenapa Mamo lupa ambil tasnya?". Mendengar kata itu, timbul rasa " Kok malah menyalahkan, padahal dia kan yang menaruh tasnya sendiri". Keinginan ngomel itu ada untuk meluapkan apa yang saya rasakan, namun secara sadar saya mengambil nafas secara pelan, setelah merasa tenang, saya sampaikan jika masih ada banyak pilihan buku untuk di baca dan menjelaskan bahwa apa yang dikatakan membuat perasaan saya tidak nyaman.

Insight yang saya dapatkan di hari kedua ini adalah penting sekali mengawali hari dengan penuh energi positif seperti hati tenang, berdamai dengan kondisi yang terjadi dan apa yang terlihat akan mempengaruhi bagaimana mood kita dalam beraktifitas sepanjang hari. Menerima segala sesuatu yang terjadi diluar apa yang saya harapkan dan memandang bahwa hal itu terjadi pada tempatnya, tidak perlu saling menyalahkan atau mencari pembenaran. Berusaha menjaga kewarasan mental dengan senyum dan nafas sadar, terus belajar legowo, sabar karena tidak ada yang bisa memprediksi masa depan, jalani hidup sesuai alurnya. Saya yakin Tuhan akan memberikan kebahagiaan kepadaku dan saya berhak untuk bahagia. Terima kasih.







Rabu, 05 Juni 2024

Hari ke-1 Latihan Body Scanning & P3K Kesadaraan

 Hari ini dimulai tantangan zona 1 kelas bunda sayang batch 9 dengan tema "Self Awareness, mengenal diriku memperngaruhi cara pengasuhanku". Materinya keren banget, langsung nampol diri sendiri. Langkah awal adalah melakukan body scanning sesuai intruksi audio yang sudah disediakan, dan melakukan P3K kesadaran sesering mungkin saat diperlukan.

Pagi ini saya melakukan body scanning setelah sholat subuh. Awalnya terasa susah untuk fokus karena memikirkan berbagai pekerjaan domestik yang akan saya lakukan di pagi hari. Kemudian saya ulangi lagi, mengembalikan kesadaran secara penuh dan mengabaikan sementara pekerjaan domestik. Saya mulai terbawa suasanya menikmati lembutnya suara Kak Nunu yang diiringi alunan musik yang menyejukkan jiwa. 

Semua proses saya ikuti sesuai intruksi, menandai bagian tubuh mana yang menimbulkan rasa tidak nyaman dan berusaha menerima rasa ketidaknyaman tersebut. Saya merasakan rasa nyeri dibagian leher belakang, bahu kanan serta punggung. Namun bahu kanan yang rasanya berat sekali, saya usap pelan-pelan sambil terus  melakukan tehnik pernapasan 4-7-8. Tiba-tiba timbul rasa mual dan muntah. Saya berusaha mengeluarkannya, namun tidak ada yang keluar. Sehingga keringat dinginpun keluar. Saya peluk diri sendiri sambil berdoa kepada Allah SWT dan beristighfar memohon ampun dan berusaha untuk menerima takdir yang sudah menjadi ketetapan Sang Khaliq. Air matapun keluar tanpa henti, ada rasa penyesalan namun sulit untuk diungkapkan. Saya biarkan diri ini menangis sepuasnya meluapkan rasa yang tidak nyaman ini. Setelah merasa puas menangis, saya kembali menarik nafas pelan-pelan sambil berkata "Everything will be fine. No matter what difficulty I am facing right now, I can overcome it! I am strong and brave". Setelahnya rasanya plong ada semangat "Ayo memulai hari ini dengan berusaha mindfulness".

Latihan P3K kesadaran sesering mungkin saya lakukan dengan berusaha untuk nafas sadar dan senyum sadar. Disaat si kecil yang tidak mau mandi dan memakan sarapan, saya mengambil nafas sebanyak 3 kali kemudian menanyakan apa yang mau dia lakukan terlebih dahulu. Si kecilpun memilih main sebentar, saya kasih jeda main 15 menit. Setelahnya mau mandi dan sarapan. Hal yang samapun terjadi saat si sulung lupa dengan tehnik pembagian bilangan bulat. Saya yang terkadang tanpa kontrol berucap " Kan sudah diajarin kenapa selalu lupa?". Langsung berusaha sadar efek emosi 90 detik jika diisi dengan kalimat negatif. Kembali lagi nafas sadar, menerima bahwa memang ada masalah sama si sulung terkait konsep matematika. 

Saya menggunakan bantuan manik-manik untuk mengetahui seberapa sering saya melakukan P3K kesadaran. Setiap melakukan nafas sadar, saya akan memasukkan manik ke dalam toples kaca bekas selai. Biasanya saya melakukan 3-5 kali latihan nafas sadar, jadi ada 3-5 manik yang masuk ke toples.

Insight yang saya dapat setelah melakukan body scanning dan P3K kesadaran, saya mengakui bahwa diri ini ada masalah. Ada sesuatu yang belum diselesai di masa lalu, namun rasanya sulit untuk memulai dari mana untuk menyelesaikannya. Saya belum berdamai dengan inner child, ada luka batin yang belum sembuh. Saya menyadari bahwa selama ini hanya berfokus pada kesehatan raga, dan menyesampingkan kesehatan jiwa saya. Kebutuhan jiwa dan spiritual yang selama ini telah saya lalukan seperti mengerjakan sholat wajib dan sunah, berpuasa, mengaji ternyata saya lakukan hanya karena untuk memenuhi kewajiban saya sebagai seorang muslim, tetapi tidak saya lakukan dengan penuh kesadaran dan rasa terima kasih kepada Sang Pencipta alam semesta. Saya membutuhkan self love untuk diri saya sendiri.

Dengan latihan tantangan ini, saya berharap semoga kekhawatiran, pikiran berlebihan dan keraguan keluar dari benak saya. Semoga kejernihan menggantikan kebingunan, berdamai dan ketenangan mengisi hidup ini.

AYO...semangat berubah menjadi lebih baik untuk diriku...!!!

Terima kasih.





Bunda Mendongeng Hari 14_Makanan Kesukaan Bo

  Alhamdulillah hirobbil alamin, Sampai juga pada tantangan hari empat belas. Cerita dongeng hari ini menceritakan tentang makanan kesukaan ...