Rabu, 26 Juni 2024

Melatih Komunikasi Produktif dengan Orang Tua Lanjut/Lansia (Zona 2 hari ke-1)

Hampir 1 minggu lebih saya berada di kampung halaman tepatnya di kota Solo. Tugas yang diberikan pada zona 2 dengan tema komunikasi produktif terutama dalam memberikan feedback, mengingatkan saya dengan keluhan saudara-saudara saya tentang bagaimana mereka berkomunikasi dengan bapak  yang sudah berusia 78 tahun. Sejauh ini, mereka menyampaikan keluh kesahnya tentang bagaimana perilaku bapak. Lalu saya akan menelpon bapak dengan menggunakan pulsa bukan paket data. Bapak hanya tinggal sendiri dirumah peninggalan orang tuanya dulu, sedangkan saudara saya yang lain rumahnya berjauhan dengan rumah yang bapak tempati.

Sebelum saya kembali ke Batam, saya bersama saudara yang lain sepakat berkumpul bersama untuk membahas tentang bapak. Akhirnya tadi malam, kesempatan itu datang. Diskusi berjalan di ruang tengah rumah kakak pertama saya. Ada Bapak, enam anaknya, dan satu anak yang hadir online melalui video call.

Awalnya diskusi berjalan lancar, namun saat dipertengahan, kakak kedua saya menyampaikan keluhan-keluhan tentang perilaku bapak yang tidak semestinya sebagai orang tau dan seorang kakek. Kakak pertama dan adik-adik saya juga membenarkan dan menambahkan beberapa hal lainnya. Saya hanya mendengarkan, karena saya tinggal di Batam, jadi tidak melihat langsung bagaimana perilaku harian bapak selama ini. Saya berusaha mindfulness, box breathing berkali-kali agar tidak ikut terbawa suasana yang penuh reaksi negatif.

Saya melihat bapak tertekan dan merasa tidak nyaman, saat anak-anaknya mempertanyakan "Mengapa begitu, Apa tidak malu dll?"

Bapak hanya menjawab singkat " Aku gak popo, sak karepmu kowe kabeh arep anggap piye-piye karo aku"

Suasanapun menegang sampai akhir diskusi yang tidak mendapatkan kesepakatan bersama. Saudara-saudara saya sudah tersulut emosi karena mereka tidak puas akan jawaban bapak yang seperti itu.

Sebelum bapak kembali ke rumah nenek, saya deketin bapak sambil bilang "Yuk pak, besok kita sarapan soto berdua di Warung Soto Sastro". Bapak menjawab "Yo, bapak tunggu".

Hari ini, Kamis, tanggal 27 Juni 2024 pukul 06:00 WIB saya dan bapak sarapan berdua dengan menyantap segernya semangkuk soto di Warung Soto Sastro. Saat menjemput bapak, saya membayangkan akan pergi kencan dengan pacar pertama saya. Sepanjang jalan menusuri persawahan menuju ke lokasi warung, saya jadi ingat dulu bapak membocengkan saya saat akan mengantar saya pergi ke sekolah. Kami bernostalgia bersama, bercanda tawa sambil menghirup udara pagi dan melupakan sejenak ketegangan yang terjadi tadi malam.

Selama menikmati soto, saya berusaha untuk tidak mempertanyakan masalah yang terjadi malam tadi. Kami hanya membahas tentang kabar teman-teman saya yang satu kampung dulu, atau menyapa pengunjung yang datang untuk sarapan. Sampai akhirnya bapak berkata " Bapak iki wis kesel, sepi rasane sejak ibuk mu wis gak ono."

Ibu saya meninggal di tahun 2013, sudah 11 tahun bapak saya hidup sendiri di rumah peninggalan nenek saya. Bapak tidak mau tinggal bersama salah satu anaknya yang rumahnya di sekitar Solo, dengan alasan tidak mau menyusahkan anak. Selama ini bapak mencari kesibukan sendiri untuk mengisi hari-harinya. Bapak masih suka pergi sendiri ke Yogyakarta, datang ke kampus-kampus yang banyak mahasiswanya. Bapak suka ngobrol sama dosen kenalannya. Sewaktu bapak muda dulu, kampus di Yogyakarta adalah tempatnya jualan barang dagangan bapak.

Dengan apa yang dilakukan bapak ini, ternyata berpengaruh pada lingkungan sekitar tempat tinggal bapak. Pulang dari Yogya di sore hari, sampai rumah setelah magrib. Lalu bapak akan istirahat. Hal ini yang menjadikan, bapak jarang berkumpul dengan para tetangga. Bapak juga sering tidak tahu ada kabar apa disekitar tempat tinggalnya. Kakak atau adik saya yang mau menjenguk bapak, harus pulang dengan rasa kecewa karena bapak jarang ada dirumah. Bertambah jengkel jika HP bapak mati, sehingga tidak bisa dihubungi.

Saat berkomunikasi dengan bapak, saya berusaha memberikan wajah berseri, menahan agar air mata tidak jatuh, berusaha tidak menyela, mendengarkan sampai bapak selesai berbicara. Saat memberikan feedback, saya berusaha berbicara dengan lembut, tidak terburu-buru, menggunakan bahasa yang sederhana dengan intonasi pelan, sambil menatap mata dan memegang tangannya.

"Bapak, kulo bangga memiliki seorang bapak seperti bapak. Lakukan apapun yang membuat bapak merasa bahagia asalkan tidak bertentangan dengan norma agama. Kabari anakmu ini, tiap bapak mau bercerita. Aku sayang bapak".

Dalam latihan memberikan feedback untuk hari ini, saya tidak memberikan feedback panjang yang terkesan menggurui atau menyalahkan atas apa yang dilakukan bapak. Saya hanya memposisikan sebagai anak yang merasa bangga mempunyai bapak seperti beliau. Saya merasa bersyukur karena bapak mau terbuka dengan saya. Mulai esok pagi hingga hari di mana saya harus kembali ke Batam, saya akan meningkatkan bonding bersama bapak dengan memperbanyak kegiatan bareng yang melibatkan bapak.

Insight dari kejadian tadi malam dan pagi hari ini adalah seiring berkurangnya usia seseorang, maka semakin berkurang kemampuannya dalam menyampaikan dan menerima sebuah informasi. Diskusi yang dilakukan tadi malam mengalami kegagalan komunikasi karena adanya perasaan berburuk sangka atau curiga, serta sikap yang kurang tepat karena seolah-olah seperti mengadili bapak. Setelah apa yang saya lakukan tadi pagi dengan mengajak bapak sarapan berdua, bapak lebih terbuka dan menceritakan semua tentang apa yang beliau rasakan. Bapak butuh privasi dan kenyamanan untuk bercerita kepada anak yang dianggapnya bisa memahaminya bukan menghakiminya. Menyampaikan pesan kepada orang tua usai lanjut sebaiknya singkat, jelas, lengkap, sederhana dibantu bahasa tubuh agar mudah dipahami. Bapak pun paham, tidak mempermasalahkan bagaimana sikap anak-anaknya tadi malam.

Alhamdulilaah, semoga konsisten menjalani komunikasi produktif seperti ini setiap hari 😊. Bismillaah...


3 komentar:

  1. Huaaaaa tak terasa air mata mengalir iki mbaaaaak

    BalasHapus
  2. Mamoooo, aku jadi teringat Ibuku saat sakit. Aku melakukan hal yg sama. Jadi teringat harunya bagaimana. Makasih sudah tulisan sebagus ini ya mbak. Mengingatkanku juga untuk membesarkan hati Ayahku yang juga hampir pasti kesepian setelah kepergian Ibumu. Hanya cucunya pelipur laranya. Makasih Mamoooo.. I love you.. Pelukkk 🫂🤎✨

    Semoga Bapak sehat selalu, senantiasa dilindungi Allaah dan berbahagia di manapun dia berjalan. Aamiin.

    BalasHapus
  3. Ya Allah... tulisannya menampar saya.
    terimakasih Mba...
    terakhiran orang tua merasa sering ngak di dengar dan ngak punya teman cerita apalagi semenjak adik bungsu pindah ke luar kota
    .....

    BalasHapus

Bunda Mendongeng Hari 14_Makanan Kesukaan Bo

  Alhamdulillah hirobbil alamin, Sampai juga pada tantangan hari empat belas. Cerita dongeng hari ini menceritakan tentang makanan kesukaan ...