Rabu, 11 Desember 2024

Bunda Mendongeng Hari 14_Makanan Kesukaan Bo

 


Alhamdulillah hirobbil alamin,

Sampai juga pada tantangan hari empat belas. Cerita dongeng hari ini menceritakan tentang makanan kesukaan Bo, yaitu sup manten. Makanan ini salah satu menu yang dihidangkan pada acara pernikahan adat jawa, khususnya Solo dan sekitarnya. Sup kuah bening dari kaldu ayam kampung yang sangat gurih dan tentunya menyegarkan saat dihidangkan dalam keadaan panas. Isian dari sup ini porsinya tidak banyak, hanya ada beberapa wortel, ayam suwir, makaroni, jamur putih, kacang kapri, bihun dan bawang goreng. Saat di kondangan, penyajian menu ini dengan cara piring terbang, dimana among tamu membawa piring dan beberapa menu suguhan yang akan diantarkan ke tempat duduk para tamu, sesuai dengan urutan. Sehingga para tamu tidak perlu mengantri atau berdesakan untuk mengambil makanan. Sup manten sebagai pembuka sebelum keluar menu utama, sehingga porsi isianya sedikit, tapi kuah banyak. Kalau bahasa jawanya"Ngoplah-oplah".

Saat kecil saya hobi sekali ikut ibu untuk pergi ke acara kondangan pernikahan. Saya suka menebak apa saja yang akan dihidangkan. Berbeda dengan kondangan masa kini yang hidangannya disajikan secara prasmanan, ditambah aneka stand yang bisa dipilih, kondangan saat saya kecil masih menggunakan konsep "piring terbang". Dengan urutan dimulai dari unjukan/kudapan beserta minum, sup, dahar/makan utama berupa nasi rames, es atau hidnagan penutup, kemudian pulang. Urutan ini saya hafalkan sejak kecil.


Saat menyebutkan "piring terbang", anak-anak langsung membayangkan pesawat alien luar angkasa yang berputar-putar di lokasi pernikahan. Si bungsu pun langsung berekspresi seperti alien. Si sulung mendengarkan secara serius tentang urutan penyajian menu hidangan di pernikahan zaman dulu. Baginya itu sangat menarik apalagi ketika dia ikut menyebutkan dengan istilah pakai bahasa jawa. Terdengar sangat lucu sekali.

Hal baik dari cerita hari terakhir tantangan zona advance 9 adalah anak-anak mengetahui beberapa istilah dalam bahasa jawa terutama dalam penyajian hidangan saat acara pernikahan. Untuk menu sup manten sendiri, mereka mengetahuinya ketika pulang ke Solo dan pernah saya membuatnya di rumah. Menurut mereka sup itu memang lebih segar dan gurih jika dibandingkan dengan soto bening Solo yang biasa mereka makan. Anak-anak juga penasaran saat saya mengatakan selain sup manten ada sup yang lainnya yaitu sup matahari dan sup timlo. Mereka jadi ingin saya membuatnya untuk mencoba kedua sup tersebut. 😀😍


Terima kasih,


Novia Hnatriyati_IP Batam


#BundaSayang

#InstitutIbuProfesional

#BundaMendongeng

#SinergiWujudkanAksi

#IbuProfesional

#IP4ID2024


Selasa, 10 Desember 2024

Bunda Mendongeng Hari 13_ Menggembala Si Kembang

 


Dongeng hari tiga belas dengan judul menggembala Si Kembang. Cerita berawal dengan suasana desa Bo yang asri. Tanah subuh untuk ladang pertanian. Padang rumput menghijau di sepanjang sungai irigasi yang bermanfaat untuk mengairi sawah. Padi menghijau berundak-undak merupakan pemandangan yang sangat indah.

Bo sedang ikut ayahnya untuk membawa si Kembang ke padang rumput dekat sungai. Si Kembang adalah sapi betina milik bude Sumi yang dipelihari keluarga Bo. Ketika akan mencari rumput di pematang sawah, ayah meminta Bo untuk mengawasi si Kembang. Bo sangat semangat sekali mengawasi dari kejauhan. Hingga ketika Bo melihat sapi itu duduk bermalas-malasan. Bo sangat penasaran, dia mendekat lalu menarik tali pengekang agar si Kembang berdiri dan makan sampai kenyang. Karena merasa diusik, si Kembang mengamuk dan menyeruduk Bo sampai terjatuh.


Anak-anak sangat tertarik dengan lagu anak gembala yang dinyanyikan Bo saat berangkat menggembala si Kembang. Kamipun bernyayi bersama, sampai si bungsu mengubah lirihnya menjadi lucu dan kami tertawa bersama. Mereka juga penasaran bagaimana rasanya ketika diseruduk sapi.😊

Hal baik dari cerita ini adalah anak-anak belajar untuk menghormati hewan. Mereka punya privasi dan wilayah yang jika kita mengganggunya maka dia akan menjadi hewan yang agresif.


Terima kasih,


Novia Hantriyati_IP Batam


#BundaSayang

#InstitutIbuProfesional

#BundaMendongeng

#SinergiWujudkanAksi

#IbuProfesional

#IP4ID2024

Minggu, 08 Desember 2024

Bunda Mendongeng Hari 12_ Bo Tercebur Sumur

 


Isi cerita dongeng hari duabelas yaitu Bo yang tercebur ke sumur karena tidak sabar menunggu ibunya untuk menimba air. Sumur Bo terletak di belakang rumah, posisinya tidak jauh dengan kandang sapi. Saat selesai buang air kecil, air dalam bak mandi hanya sedikit tidak cukup untuk menyentor air kencingnya. Tubuh Bo masih kecil, belum bisa menimba air. Dia meminta ibunya untuk mengambilkan air, tetapi ibunya masih mengurusi si Kembang, yaitu sapi betina milik bude Sumi yang dipelihara keluarga Bo. 

Bo tidak sabar menunggu ibu, sehingga dia memutuskan untuk menimba air dari sumur. Bo sering melihat, bagaimana ayah atau ibunya ketika menimba. Dia mengingat lalu mempraktekkan seperti yang pernah dilihat. Mulai mengambil tali, menurunkan ember ke dasar sumur. Setelah ember berisi penuh, Bo menarik tari timba ke atas dengan pelan-pelan. Namun tenaganya tidak sebanding dengan berat ember dan tali timba yang juga licin. Ember terjatuh bersamaan dengan tubuh Bo yang tertarik tali timba.


Anak-anak sudah melihat bagaimana bentuk sumur ketika pulang ke Solo, namun belum pernah melihat bagian dalamnya. Sumur sudah ditutup karena mengalami kekeringan dan berganti dengan air PAM. Saat saya menceritakan ketika ember yang berisi air ditarik dengan tali limba yang licin, anak-anak berimajinasi seperti menarik sebuah batu yang sangat besar dan berat. Mereka juga membayangkan keadaan di dalam sumur yang gelap dan lembab. Terlihat wajah mereka sedikit takut saat membayangkan mereka berada di dalam sumur.

Hal baik dari cerita ini, anak-anak semakin belajar bahwa kesabaran itu sangat penting. Mereka jadi lebih berhati-hati. Jika berbuat hal yang ceroboh, tentu akan merugikan atau diri sendiri akan celaka. Meraka juga dapat mengukur kekuatan tubuh ketika akan mengangkat  beban suatu benda. 


Terima kasih,


Novia Hantriyati_IP Batam


#BundaSayang

#InstitutIbuProfesional

#BundaMendongeng

#SinergiWujudkanAksi

#IbuProfesional

#IP4ID2024


Sabtu, 07 Desember 2024

Bunda Mendongeng Hari 11_ Menonton Pertunjukan Jarang Kepang

 



Dongeng hari 11 berawal dari mengenalkan tradisi bersih desa yang sampai saat ini masih dilakukan oleh warga tempat tinggal masa kecil saya dulu. Kegiatan ini bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen yang didapat. Tujuan yang lainnya adalah memberikan sesaji kepada danyang desa, yaitu makhluk  gaib yang menjaga desa agar menjaga dari hal-hal buruk.  Warga desa akan mengadakan sholawatan beserta doa bersama. Setiap warga akan membawa tumpeng dari rumah yang akan dimakan bersama-sama.

Puncak dari acara bersih desa adalah pertunjukan jarang kepang atau kuda lumping. Salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Seni tarian tradisional yang menggambarkan pasukan berkuda sebagai dukungan rakyat biasa kepada Pangeran Diponegoro beserta pasukannya yang sedang berperang melawan penjajah. Ada pantangan saat menonton pertunjukan ini yaitu penonton dilarang memakai baju warna hijau atau merah. Dikhawatirkan saat salah satu penari yang kesurupan akan mengejar penonton yang melanggar pantangan itu. Pantangan ini mitos atau fakta, sampai saat ini saya tidak mengetahuinya. Saya hanya ingat pesat ibu saat saya kecil dulu.



Saat saya bercerita, anak-anak sangat antusias meresponnya. Mereka tertarik dengan tradisi bersih desa. Bayangan si sulung adalah kegiatan untuk membersihkan desa atau bergotong royong supaya bersih dan terhindar dari penyakit seperti nyamuk demam berdarah atau penyakit lainnya. Mereka baru tahu ada tradisi seperti ini, karena jika pulang ke Solo, belum pernah melihat kegiatan seperti ini. 

Pada cerita bagian menonton jarang kepang yang penarinya kesurupan, anak-anak merasakan ketegangan. Mereka bertanya bagaimana mungkin orang makan beling, kenapa tidak makan nasi saja kan lebih enak. Bahkan si bungsu menganggap Jarang Kepang sama seperti pertunjukan Barong Sai yang pernah dia lihat ketika perayaan Imlek. 

Hal baiknya yaitu, anak-anak mulai mengenal tradisi turun temurun yang masih dilakukan oleh kakek/nenek mereka. Sesaji yang pernah mereka lihat di sawah atau persimpangan jalan ketika mereka pulang ke Solo, ternyata diperuntukkan untuk danyang desa. Saya mengatakan untuk menghormati, menghargai, apa yang para leluhur lakukan karena pastinya bertujuan untuk hal baik. Walau pada zaman sekarang hal itu sudah banyak ditinggalkan oleh generasi saat ini. Karena manusia hidup berdampingan dengan makhluk ciptaan Allah SWT yang lainnya.


Terima kasih,


Novia Hantriyati_IP Batam


#BundaSayang

#InstitutIbuProfesional

#BundaMendongeng

#SinergiWujudkanAksi

#IbuProfesional

#IP4ID2024

Jumat, 06 Desember 2024

Bunda Mendongeng Hari 10_Tradisi Menjelang Lebaran

 


Setelah kemarin isi cerita dongeng tentang pengalaman pertama Bo yang ikut puasa Ramadhan. Hari 10 ini isi dongeng menceritakan tradisi yang biasa dilakukan di kampung menjelang hari raya Idul Fitri atau lebaran. Ada dua tradisi yang masih melekat dalam ingatan saya yaitu bermain long bumbung atau meriam bambu dan ater-ater memberi sembako kepada saudara ibu yang lebih tua atau kepada tetangga yang lebih tua. 

Dalam cerita, Bo dan teman-teman bermain long bumbung di tepi sungai. Tradisi permainan tradisional yang terbuat dari bambu yang tua dan berdiameter besar. Di bagian ujung akan dibuat lubang berbentuk persegi sebagai tempat untuk menyulut api. Di dalam bambu sudah ada minyak tanah atau karbit yang sebagai bahan peledak. Permainan ini sangat seru sekali, ketika kaleng yang diletakkan di ujung akan terlontar jauh seperti rudal dan akan menghasilkan suara dentuman yang keras. 

Satu tradisi lagi yaitu" Ater-ater", saling memberi makanan atau sembako kepada saudara atau tetangga yang lebih tua. Hal yang paling saya tunggu saat mengantar ater-ater yaitu mendapatkan uang fitrah sebagai balasan. Uang itu akan saya tabung atau membeli keperluan sekolah atau baju lebaran. Sungguh senang tiada kira 😀


Saat saya melakukan dongeng, anak-anak sangat tertarik dengan long bumbung, si sulung berimajinasi itu seperti senjata dalam kendaraan tempur tank, sedangkan si bungsu berimajinasi seperti senapan besar yang punya peluru. Mereka ingin membuat long bumbung, dan ingin bermain di tepi pantai. 

Sampai hari 10, saya mendongeng dengan tokoh Bo. Anak-anak mulai bisa menilai jika Bo anak yang ceria, suka berbuat baik, bebas bermain dan berpetualang di alam terbuka. Mereka juga ingin merasakan bagaimana Bo memanjat pohon besar, mandi si sungai, mencari belalang dan kegiatan seru lainnya. Saya mengatakan semua itu bisa dilakukan dengan menyesuaikan dengan kehidupan zaman sekarang. Yang terpenting adalah lakukan kegiatan sebagai kenangan yang baik dan manis di masa kecil seperti saat ini. Karena itu akan membekas dan akan bisa diceritakan kembali ketika mereka menjadi orang tua.

Terima kasih,


Novia Hantriyati


#BundaSayang

#InstitutIbuProfesional

#BundaMendongeng

#SinergiWujudkanAksi

#IbuProfesional

#IP4ID2024


Kamis, 05 Desember 2024

Bunda Mendongeng Hari 9_Puasa Pertama Bo

 


Isi dongeng menceritakan pengalaman ayahnya anak-anak dalam tokoh Bo yang mulai belajar ikut puasa Ramadhan. Saat sahur, Bo susah untuk bangun. Sampai akhirnya dia bangun dan makan sahur bersama keluarganya. Pada siang hari saat main kelereng dengan temannya, Bo menemukan 1 bungkus permen di dalam kantong celananya. Tanpa sadar Bo memakan permen itu. Tak berapa lama Bo pun ingat kalau sedang berpuasa, lalu membuang permen itu dan melanjutkan puasa sampai waktunya berbuka. Bo pun bertekad untuk tidak lupa lagi.

Anak-anak merespon sangat baik. Mereka penasaran dengan permen davos yang saya ceritakan dalam permen, yaitu kembang gula dengan sensasi rasa mint yang kuat, sehingga terasa semriwing ketika dihisap. Sewaktu kecil saya menyebutnya “Permen keras” karena rasanya extra strong. Bahkan si sulung ingin merasakannya.


Hal baiknya, saat saya mendongeng Bo yang ingin puasa di usia lima tahun. Si bungsu mengatakan “Baraka sudah lima tahun, nanti juga mau latihan puasa.” Masya Allah senang sekali, walau nanti sepetrti apa, setidaknya si bungsu sudah ingin meniru sikap baik Bo dalam tokoh dongeng.

Terima kasih,


Novia Hantriyati


#BundaSayang

#InstitutIbuProfesional

#BundaMendongeng

#SinergiWujudkanAksi

#IbuProfesional

#IP4ID2024

Rabu, 04 Desember 2024

Bunda Mengdongeng Hari 8_ Panen Buah Kedondong

 


Dongeng hari 8 menceritakan keseruan panen buat kedondong. Pohon kedondong tumbuh tinggi di belakang rumah dengan ukuran batang yang besar, dahan dan ranting yang banyak, serta buah yang lebat. Buah kedondong siap panen setelah enam sampai delapan bulan dari masa berbunga. Buah kedondong yang sudah masak berukuran besar dengan warna hijau gelap atau kuning keemasan.

Saat bercerita, si bungsu penasaran sekali dengan bentuk buah kedondong. Si sulung memberi tau jika buah kedondong bentuknya lonjong atau bulat seperti telur, warnanya hijau, didalamnya ada daging yang tebal dan lunak, serta biji yang bulat dan berserat. Tanggapan si bungsu sangat lucu, "Ohhh seperti buah apel ya?? 😀😃 (memang susah mencari buah kedondong di pasar dekat rumah)

Saya juga menceritakan bagaimana dulu saya kejatuhan buah kedondong. Mereka tertawa bersama, katanya itu paling lucu. Anak-anak pun membayangkan saat saya menceritakan bagaimana besar dan tingginya pohon kedondong tersebut. Mereka bertanya apakah memanjat pohon, sama dengan memanjat dinding atau pagar? Tentu secara pelaksanaannya sama, namun agak sulit ketika memancat sebuah pohon.


Hal yang menarik perhatian mereka adalah saat proses memetik yang menggunakan katrol. Saya menjelaskannya seperti proses menimba air dari sumur. Ini dilakukan karena pohonnya tinggi dan besar, tidak akan menjangkau semua buah yang akan dipetik jika menggunakan galah yang ujungnya diberi jaring. Sehingga harus menggunakan katrol(kerekan) dan tali tambang yang ujungnya diberi ember untuk menempatkan buah. Jika sudah penuh, ember tersebut akan diturunkan pelan-pelan. Buah akan rusak atau pecah jika langsung dijatuhkan dari atas.

Hal baik dari cerita ini, anak-anak merespon dengan aktif. Berimajinasi memanjat sebuah pohon, terkadang juga menambahkan cerita, dan bertanya sesuatu yang belum mereka pahami.

Terima kasih,


Novia


#BundaSayang

#InstitutIbuProfesional

#BundaMendongeng

#SinergiWujudkanAksi

#IbuProfesional

#IP4ID2024

Selasa, 03 Desember 2024

Bunda Mendongeng Hari 7 _Bermain Blarak Sempal

 


Isi cerita dongeng hari tujuh tentang salah satu permainan tradisional yang dulu sering saya mainkan bersama teman-teman yaitu permainannya Blarak Sempal. Blarak Sempal dalam bahas jawa, "Blarak" yang berarti daun kelapa yang sudah kering dan kata "Sempal" yang berarti patah atau jatuh.

Permainan ini dulu sangat seru dimainkan saat bulan purnama tiba. Karena sulit mendapatkan sabut kelapa yang digunakan sebagai tumpuan kaki, jadi menggantinya dengan batu sebesar kelapa. Permainan ini dilakukan oleh empat sampai delapan pemain yang memiliki postur tubuh seimbang karena untuk memainkannya diperlukan kekuatan fisik. Pemain dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok sebagai penarik dan satu lagi kelompok pemain.


Selain blarak sempal, saya juga menyebutkan jenis permainan tradisional lainnya seperti nekeran (kelereng), dhelikan (petak umpek), benthik (patil lele), dan gobak sodor. Anak-anak antusian mendengarkan dongeng yang saya bacakan. Apalagi dibagian awal cerita, saya menceritakan tentang pohon nangka yang tumbuh dipekarangan rumah dengan batang kuat, daun lebat dan akar yang timbul ke permukaan tanah. Anak-anak berimajinasi membayangkan bagaimana gambaran tersebut. Sekarang pohon itu sudah ditebang karena ada renovasi di rumah masa kecil saya, sehingga saat kami pulang ke Solo, anak-anak tidak melihatnya. 

Anak-anak antusian mengajak kami melakukan permainan blarak sempak, dikarenakan postur tubuh kami yang tidak seimbang. Setelah selesai mendongeng, kami melihat cara permainannya di channel youtube dan memainkan permaianan petak umpet. Si bungsu yang jadi penjaga, saya dan si sulung bersembunyi. Hal baik dari cerita, saya mengenalkan bentuk kerjasama dan kejujuran melalui permainan blarak sempal, serta salah satu upaya untuk mengenalkan nilai-nilai budaya dan warisan lokal.

Terima kasih,

Novia Hantriyati


#BundaSayang

#InstitutIbuProfesional

#BundaMendongeng

#SinergiWujudkanAksi

#IbuProfesional

#IP4ID2024

 

Senin, 02 Desember 2024

Bunda Mendongeng hari 6 _Melihat Air Terjun Grojogan Sewu

 


Cerita dongeng hari keenam menceritakan pengalaman saat saya pergi ke air terjun Grojogan Sewu. Air terjun yang terletak di lereng Gunung Lawu, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Tempat wisata yang menawarkan pesona alam eksotik, suasana tenang , fasilitas lengkap, tentunya menjadi daya tarik bagi wisatawan dari berbagai daerah.

Dalam cerita saya menceritakan kegembiraan Bo dan Olli yang akan diajak melihat air terjun. Mereka berdua sangat semangat, seperti yang saya alami ketika dulu diajak piknik. Setiap perjalanan saat berangkat dan pulang menjadi moment tersendiri yang tidak akan dilupakan. Apalagi ketika sudah sampai ke tempat wisata. 

Saya memberi gambaran pemandangan kabupaten Karanganyar yang letaknya tidak jauh dari rumah kakeknya anak-anak. Udara yang lebih sejuk, jalan berkelok-kelok yang mengikuti kemiringan lereng, hamparan kebun aneka sayuran, serta pohon yang tumbuh menjulang tinggi. Teman mendongeng saya yaitu si sulung dan si bungsu langsung berimajinasi membayangkan bagaimana indahnya suasana di daerah Pegunungan. Ekspresi mereka berbinar sangat menggemaskan.

Hal yang sama pun terjadi ketika saya menceritakan pemandangan di air terjun. Kolam renang dengan air jernih, bersih dan menyegarkan yang berasal dari lereng Gunung Lawu. Bebatuan kali yang banyak tersebar, banyak monyet berkeliaran, aneka jajanan dan tempat permainan. Si bungsu langsung berkata "Ayo Mo, kita ke sana sekarang." Si Sulung pun menimpali " Iya Mo, nanti kalau kita pulang ke rumah Kakek. Grojogan Sewu jadi waiting list yang wajib dikunjungi. " Ha..ha...ha..


                                          Dokumentasi keseruan mendongeng

Yah..anak-anak memang belum pernah kami ajak ke sana ketika pulang ke Solo. Kami lebih sering ke Jogja dengan alasan transportasi lebih gampang dijangkau. Di batam sendiri tidak ada tempat wisata mata air alami. Hanya ada wisata alam Mata Kucing yang menyajikan suasana hutan dan sumber mata air dari bukit. Namun sekarang sudah ditutup karena termasuk kawasan hutang lindung yang di tetapkan oleh BP Batam, sehingga tidak dibuka untuk umum.

Cerita hari ini bagi saya mampu membangkitkan dan mengembangkan imajinasi anak-anak. Mereka interaktif, kadang mengubah alur cerita dengan bahasa dan imajinasi mereka sendiri.

Terima kasih


Novia Hantriyati,


#BundaSayang

#InstitutIbuProfesional

#BundaMendongeng

#SinergiWujudkanAksi

#IbuProfesional

#IP4ID2024

Minggu, 01 Desember 2024

Bunda Mendongeng Hari 5_Disengat Tawon

 


    Teman mendongeng saya hari ini adalah si bungsu, karena si sulung sedang ada kelas mentoring. Cerita dongeng menceritakan kejadian ketika saya waktu kecil memetik buah melinjo. Saya dan kakak laki-laki yang saat itu berusia 13 tahun membantu nenek memetik buah melinjo. Kebun belakang rumah nenek sangat luas, banyak jenis pohon buah dan tumbuhan yang lainnya. Saat memetik buah melinjo, tak sengaja kakak saya mengenai sarang tawon. Ada satu tawon yang menyengat bibirnya. Bibirnya merah, bengkak, ukurannya menjadi besar dan tebal (ndomble) seperti boneka dakocan. Karena disengat tawon, kakak tidak masuk sekolah selama 3 hari. Saat menceritakan ulang kepada si bungsu, saya langsung tertawa, terbayang betapa lucunya wajah kakak saat itu. 😃😀

    Dalam cerita saya menceritakan bahwa yang disengat tawon adalah ayah Olli dan Bo. Dengan kejadian yang sama yaitu memetik buah melinjo. Saya menyebutkan beberapa pohon buah yang tumbuh dikebun pekarangan. Si bungsu tidak tahu seperti apa buah kedondong dan buah jeruk bali atau jeruk keprok. Saya pun menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan berencana untuk mencari di pasar, karena dua buah ini sudah jarang sekali ditemukan. Untuk buah melinjo sendiri, si bungsu sudah tahu bentuknya seperti apa. 

 Di tengah bercerita, si bungsu menyeletuk "Tawon itu ada di dalam Al-quran kan Mamo." Masya Allah ternyata dia masih mengingat salah satu hewan dalam Al-quran yang pernah saya ceritakan. Si bungsu juga bertanya "Apa itu boneka dakocan", Ya..boneka jadul yang berwarna hitam dengan bibir tebal yang merah. Dulu saya mempunyai boneka ini. Si bungsu juga merespon pada bagian cerita yang menceritakan bunga untuk mengobati sengatan tawon. Untuk hal ini, sebenarnya kurang jelas bagaimana bunga bisa meringankan sakit akibat sengatan lebah, dulu saya hanya melihat nenek meremas dan mengoleskan bunga disekitar mulut kakak saya, setelahnya kakak tidak merasakan sakit, namun masih ada bengkak di bibirnya.

    Di akhir cerita saya menyampaikan jika ada lebah atau tawon, tidak boleh diganggu. Mereka menyengat manusia, jika merasa terganggu. Makanannya adalah nektar, atau buah-buahan. Menghasilkan cairan madu yang berkhasiat untuk manusia. Dari lebah kita harus belajar untuk mengambil sesuatu dengan baik, dan memberikan yang baik.

Terima kasih,


Novia Hantriyati_IP Batam


#BundaSayang

#InstitutIbuProfesional

#BundaMendongeng

#SinergiWujudkanAksi

#IbuProfesional

#IP4ID2024

Bunda Mendongeng hari 4_ Tergores Sedikit


Di hari 4 ini, cerita dalam dongeng yang saya sampaikan kepada anak-anak menceritakan kejadian ketika suami beserta bapak dan adiknya yang terserempet mobil saat akan pergi bermain sepak bola. Akibat kejadian tersebut meninggalkan bekas luka pada lutut kanan bawah. Isi dalam cerita saya buat lebih ringan dengan judul "Tergores Sedikit". Namun anak-anak mengetahui kejadian yang sebenarnya dari ayahnya langsung.

Dalam cerita saya menceritakan sebuah lapangan sepak bola yaitu lapangan Mojosongo yang letakknya tidak jauh dari rumah masa kecil saya. Ada juga cerita sepeda motor milik mertua yang sampai saat ini masih ada, yaitu sepeda motor Yamaha Alfa keluaran tahun 1988. Sekarang sepeda motor itu hanya digunakan mertua untuk pergi ke sawah, tidak digunakan untuk berkendara ke jalan raya.

Anak-anak mendengarkan dengan ekspresi yang menggemaskan, apalagi si bungsu yang bengong saat saya menceritakan sepeda motor tua milik kakeknya. Begitu juga dengan si sulung yang sangat antusias mencari tahu lebih lanjut tentang lapangan Mojosongo dan sepeda motor Yamaha Alfa di pencarian google setelah saya selesai mendongeng.

Saat bercerita, si bungsu lebih aktif menanggapi cerita saya. Kadang dia membelokkan cerita sesuai dengan imajinasinya. Si sulung yang tidak sabaran selalu menyeletuk "Diamlah dek, mamo belum selesai ceritanya." Ya..karena dia selalu penasaran dengan akhir cerita dongeng yang saya sampaikan.

Hal baik cerita hari ini, anak-anak semakin mengenal benda-benda yang jarang bisa dijumpai saat ini. Dari isi cerita, saya menyampaikan pesan moral kepada anak-anak untuk selalu hati-hati, bersabar, dan bersyukur atas musibah yang sudah di takdirkan oleh Allah SWT. Bahwa apa yang sudah terjadi sampai detik ini agar kita bersabar dan bersyukur sebagai rasa taat kita kepada Sang Pencipta.

Hal perlu diperbaiki, ada permintaan dari anak-anak meminta cerita dongeng lucu yang pernah saya atau suami alami. Oke...besok mulai cerita yang lucu.😊


Terima kasih,


Novia Hantriyati_IP Batam


#BundaSayang

#InstitutIbuProfesional

#BundaMendongeng

#SinergiWujudkanAksi

#IbuProfesional

#IP4ID2024



Bunda Mendongeng Hari 14_Makanan Kesukaan Bo

  Alhamdulillah hirobbil alamin, Sampai juga pada tantangan hari empat belas. Cerita dongeng hari ini menceritakan tentang makanan kesukaan ...