Sore itu, saat ibu Woly menonton televisi, ada siaran sekilas info tentang cuaca.
"Selamat sore, para penduduk kota W, badai akan segera datang, harap untuk tetap dirumah sampai badai mereda." Kata pembawa acara televisi
" Badai akan datang." ucap pelan ibu Woly
Ibu Woly lalu melihat Woly anak pertamanya dan Jenni anak keduanya yang sedang bermain di halaman rumah.
"Anak-anak, badai akan datang. Ayo cepat masuk rumah." teriak ibu Woly
Woly dan Jenni mengehentikan sejenak dari aktivitas mainnya. Tak lama setelahnya angin mulai bertiup lebih kencang dari biasanya yang menerbangkan daun-daun pohon. Kedua kakak beradik itu malah semakin senang bermain mengejar-ngejar daun-daun yang berterbangan.
Sementara kedua orang tuanya sibuk mengangkat jemuran dan memasukkan beberapa pot tanaman ke dalam rumah. Mereka belum tahu jika anak-anak masih asyik bermain di luar rumah. Ketika mereka menyadari, anak-anak sudah berlari ke tepi jalan terus mengejar-ngejar daun yang berterbangan. Ayah Woolfy pun langsung berlari dan mengangkat tubuh keduanya masuk ke dalam rumah.
" Jika badai datang, segera masuk rumah." kata ayah Woly
"Kenapa?" kata Woly ingin tahu
"Karena badai sangat kuat dan sangat berbahaya." penjelasan ayah Woly
Tak lama setelahnya, terdengar suara yang sangat keras sekali " Brakk". Dan mereka sangat kaget
"Suara apa itu?" tanya Jenni
"Ayo kita lihat dari jendela." ajak Woly kepada Jenny
Mereka berlari kearah jendela dan melihat keluar, ternyata pohon depan rumah Woly tumbang.
"Pantas saja ayah tadi menyuruh kita masuk, ternyata badai berkekuatan super." kata Woly
"Kakak benar, aku setuju." ucap Jenny
"Lalu, apa yang harus kita lakukan kak?" tanya Jenny
"Bagaimana kalau kita menonton televisi?" usul Woly
"Ide bagus kak. Aku akan menyalakan Televisinya." ucap Jenni sambil berlari ke meja televisi. Saat Jenni akan menekan tombol on/off,
Tiba..tiba..
"Jangan dinyalakan Jenny!" Larang ibu Woly
Seketika Jenni berhenti di tempat.
"Kenapa Bu? kami bosan cuma berdiam tidak melakukan apapun." tanya Woly
" Saat badai, dilarang menyalakan televisi, karena itu sangat berbahaya bisa terjadi sengatan listrik." Jelas ibu Woly
Sesaat kemudian listrik pun padam. Woly dan Jenni sangat ketakutan, namun ayah Woly segera datang dengan membawa senter dan beberapa makanan ringan untuk mereka nikmati bersama sambil menunggu badai reda.
Namun badai belum juga reda, listrik belum nyala dan udara semakin terasa dingin. Saat keluarga Woly berkumpul, terdengar ada yang mengetuk pintu.
Tok..tok..tok tok..tok..tok tok..tok..tok..
"Siapa yang mengetuk pintu dan bertamu pada saat badai begini?" tanya ayah
Ibu, Woly dan Jenni hanya mengangkat bahu. Ayah pun segera berjalan menuju ke arah pintu.
"Paman Wen." sapa ayah Woly dengan kaget.
"Ayo, cepat masuk paman." Lanjut ayah Woly menyuruh paman Wen masuk rumah
Paman Wen sudah sangat kedinginan, kemudian ibu Woly mengambilkan handuk dan baju ganti untuk paman Wen. Paman Wen adalah adik dari Ibu Woly.
Setelah paman Wen membersihkan diri dan berganti pakaian, paman segera bergabung dengan keluarga Woly untuk menikmati secangkir coklat hangat.
"Paman, kenapa waktu ada badai, paman malah berada di luar rumah?" tanya Woly ingin tahu
"Paman memang berencana pergi mengunjungi kalian, tadi pagi saat paman berangkat dari rumah nenek kalian, tidak ada tanda-tanda badan akan datang." Jelas paman Wen
"Bersyukur sekali saat badai datang, paman hampir sampai dirumah ini. Di luar keadaannya sangat kacau." Lanjut paman Wen lagi
Setelah mendengar penjelasan dari paman, mereka semua pergi keruangan bawah tanah. Ayah Woly sengaja membangun rumah dengan melengkapi ruangan bawah tanah. Kota W sering sekali ada badai yang datang secara tiba-tiba, sehingga ruangan bawah tanah merupakan tempat yang aman jika ada badai besar datang.
Ruangan bawah tanah cukup besar, sehingga mereka bisa leluasa bermain dan berbincang-bincang sambil menunggu badai reda. Tetapi berdasarkan siaran radio yang ayah Woly bawa, kemungkinan badai akan reda besok pagi. Setelahnya mereka memilih untuk tidur.
Keesokan harinya, berita diradio menyiarkan kalau badai sudah reda. Ayah Woly dan paman Wen pun naik ke atas untuk memastikan kebenaran berita. Ternyata badai sudah reda.
Ibu, Woly dan Jenni juga ikut naik keatas. Keadaan diluar sangat berantakan, terlihat dari kaca jendela saat ibu membukanya.
"Lihat kak, berantakan sekali banyak pohon yang tumbang dan rumah tetangga ada yang rusak." Kata Jenny
"Iya, kakak melihatnya. Ternyata badai bisa memporak-porandakan apa saja yang dilewati." Jawab Woly
"Lalu apa yang harus kita lakukan Bu?" Tanya Woly kepada ibunya
"Kita tunggu intruksi dari ayah ya. Kita harus tetap tenang, jangan panik." jawab ibu Woly
Tak berapa lama, ayah Woly dan paman Wen masuk ke rumah.
"Keadaan diluar sangat parah, ayah dan paman Wen akan membersihkan mulai pagi ini. Woly dan Jenni boleh ikut membantu, tetapi harus hati-hati. Untuk ibu boleh membuatkan sarapan untuk kami" kata ayah Woly
"Hore...ye...asyik kita akan bekerja bakti." jawan Woly dan Jenni bersamaan.
"Siap ayah". jawab ibu Woly
Akhirnya mereka bergotong royong membersihkan lingkungan sekitar rumah yang rusak akibat badai kemarin. Woly dan Jenny sangat senang sekali membantu pekerjaan ini.
Selesai